Imam Sufyan Ats-Tsauri – Shalih sejak dalam Kandungan


Pada mulanya ia dikenal sebagai ahli hadits dan fiqih. Tetapi di masa akhir kehidupannya ia menyepi, sehingga orang mengenalnya sebagai orang suci.

Dalam khazanah Islam, Sufyan Ats-Tsauri lebih dikenal sebagai fuqaha dan ahli hadits. Namun beberapa penulis buku sufi juga mema­sukkan nama Ats-Tsauri sebagai salah satu tokoh sufi yang dihormati.

Fariduddin Al-Attar, misalnya, me­masukkan nama Sufyan Ats-Tsauri da­lam bukunya yang berjudul Tadzkiratul Auliya’, dan mengisahkan beberapa anekdot kehidupan sufinya yang penuh hikmah. Cirinya adalah kehati-hatiannya dalam beramal dan berpendapat.

Menurut beberapa ulama, karena kehati-hatian Sufyan Ats-Tsauri dalam berpendapat inilah, banyak orang me­nyebut dirinya lebih patut sebagai ulama sufi daripada seorang pakar ilmu fiqih atau ilmu hadits.

Nama lengkapnya adalah Sufyan bin Said bin Masruq bin Rafi’ bin Abdillah bin Muhabah bin Abi Abdillah bin Manqad bin Nashr bin Al-Harits bin Tsa’labah bin Amir bin Mulkan bin Tsur bin Abdumanat Adda bin Thabikhah bin Ilyas.

Para ahli sejarah sepakat, Sufyan Ats-Tsauri lahir di Kufah pada tahun 77 H/699 M. Ayahnya adalah seorang ahli hadits ternama, yaitu Said bin Masruq Ats-Tsauri, dan teman Asy-Sya’bi dan Khaitsamah bin Abdirrahman. Keduanya termasuk generasi tabi’in dan para perawi Kufah yang dapat dipercaya.

Keshalihan Sufyan Ats-Tsauri sudah tampak sejak ia masih berada di dalam kandungan ibunya.

Suatu hari ibunya sedang berada di atas loteng rumah. Si ibu mengambil beberapa asinan yang sedang dijemur tetangganya di atas dan memakannya. Tiba-tiba Sufyan, yang masih berada di dalam rahim ibunya, menyepak sedemi­kian kerasnya, sehingga si ibu mengira bahwa ia keguguran.

Sufyan pertama kali belajar kepada ayahnya dan kemudian belajar kepada banyak guru hadits dan fiqih di kota Kufah dan kota Bashrah. Para penulis riwayatnya lebih banyak mencatat guru-guru dalam bidang hadits dan fiqih, dan tidak menyebutkan gurunya dalam bi­dang tasawuf. Karena itu boleh dikata­kan, kehidupan menyepinya, sehingga ia dijuluki manusia suci oleh para sufi, me­rupakan pengembangan dari keda­laman ilmunya dalam ilmu-ilmu Islam, se­bagaimana juga di kemudian hari di­praktekkan oleh Imam Ghazali.

Semula ia berguru ilmu agama ke­pada ayahnya sendiri, kemudian kepada para guru hadits dari Bashrah dan Kufah.

Karena kepakarannya, ia sering di­sebut dengan panggilan “Imam Sufyan Ats-Tsauri” (Ats-tsauri berarti “yang pe­mikirannya selalu bergolak”).

Banyak hadits yang diriwayatkannya, sehingga ia dan kalangannya memben­tuk suatu madzhab tersendiri dalam fiqih. Madzhab fiqih Sufyan Ats-Tsauri berta­han hingga dua abad, setelah itu meng­hilang, dan sekarang kita hanya mene­mukan pendapat-pendapatnya dalam cuplikan beberapa kitab kuning.

Murid-murid Ats-Tsauri antara lain Aban bin Taghlab, Syu’bah, Zaidah, Al-Auza’i, Malik, Zuhair bin Muawiyah, Mus’ar, Abdurrahman bin Mahdi, Yahya bin Said, Ibnu Al-Mubarak, Jarir, Hafsh bin Ghayyats, Abu Usamah, Ishaq Al-Azraq, Ruh bin Ubadah, Zaidah bin Al-Habbab, Abu Zubaidah Atsir bin Al-Qasim, Abdullah bin Wahab, Abdur­raz­zaq, Ubaidillah Al-Asyja’i , Isa bin Yunus, Al-Fadhl bin Musa As-Sainani, Abdullah bin Namir, Abdullah bin Dawud Al-Khuraibi, Fudhail bin Iyadh, Abu Ishaq Al-fazari, Makhlad bin Yazid, Mush’ab bin Al-Muqaddam, Al-Walid bin Muslim, Mu’adz bin Mu’adz, Yahya bin Adam, Yahya bin Yaman, Waki’, Yazid bin Nu’aim, Ubaidillah bin Musa, Abu Hudzaifah An-Nahdi, Abu ‘Ashim, Khalad bin Yahya, Qabishah, Al-faryabi, Ahmad bin Abdillah bin Yunus, Ali bin Al-Ju’di (ia adalah perawi tsiqat, terper­caya, paling akhir yang meriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri).

 

Bagai Lautan

Dari sisi keilmuan, Sufyan bagaikan lautan, yang tidak diketahui kedalaman­nya. Dari sisi pengaruh, ia bagaikan air bah, yang mengalir dan tak terbendung.

Di antara pujian para ulama terha­dapnya adalah sebagaimana yang di­katakan Al-Hafidz Abu Bakar Al-Khatib rahimahullah, “Sufyan Ats-Tsauri adalah pemimpin ulama-ulama Islam dan guru­nya. Sufyan rahimahullah adalah se­orang yang mempunyai kemuliaan, se­hingga ia tidak butuh pujian. Selain itu Ats-Tsauri juga seorang yang bisa di­percaya, mempunyai hafalan yang kuat, berilmu luas, wara’, dan zuhud.” Sedang Al-Auza’i mengatakan, “Tidak ada orang yang bisa membuat umat merasa ridha dalam kebenaran kecuali Sufyan.”

Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Aku tidak melihat ada orang yang lebih utama dari Sufyan, sedang ia sendiri tidak me­rasa bahwa dirinya adalah orang yang paling utama.”

Dari Yahya bin Said, orang-orang ber­tanya kepadanya tentang Sufyan dan Syu’bah, ulama besar yang lain, siapa­kah di antara keduanya yang paling di­senangi. Yahya bin Said menjawab, “Per­soalannya bukan karena senang. Sedangkan jika karena rasa senang, Syu’bah lebih aku senangi daripada Sufyan, karena keunggulannya. Sufyan bersandarkan pada tulisan, sedang Syu’bah tidak bersandar pada tulisan. Namun Sufyan lebih kuat ingatannya daripada Syu’bah. Aku pernah melihat keduanya berselisih, lalu pendapat Sufyan Ats-Tsauri yang digunakan.”

Ahmad bin Abdullah Al-Ajli berkata, “Sebaik-baik sanad yang berasal dari Kufah adalah dari Sufyan dari Manshur dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah.”

Ulama-ulama besar, seperti Syu’bah, Sufyan bin Uyainah, Abu ‘Ashim An-Nabil, Yahya bin Ma’in, dan yang lain, berkata, “Sufyan adalah Amirul Mu’minin dalam hadits.”

Ibnu Al-Mubarak berkata, “Aku telah menulis hadits dari 1.100 guru, tapi aku tidak bisa menulis sebaik Ats-Tsauri.”

Al-Hafidz menuturkan sifat-sifat baik yang dimiliki Sufyan sebagai berikut, “Sufyan adalah pemimpin orang-orang zu­hud, banyak melakukan ibadah dan takut kepada Allah. Ats-Tsauri juga pe­mimpin orang-orang yang mempunyai ha­falan yang kuat, ia banyak mengetahui hadits dan mempunyai pengetahuan ten­tang ilmu fiqih yang mendalam. Ats-Tsau­ri juga seorang yang tidak gentar terha­dap cercaan dalam membela agama Allah. Semoga Allah mengam­puninya atas semua kesalahannya, yaitu kesalah­an-kesalahan yang bukan hasil ijtihad.”

Masih banyak lagi pujian para ulama terhadap dirinya, dan cukuplah apa yang disebutkan menjadi bukti bahwa ia ada­lah seorang ulama yang sangat diper­caya dan diakui keluasan ilmunya.

 

Tinggal di Tempat Sunyi

Sufyan Ats-Tsauri menjadi sufi di­mulai dari tekanan yang keras dari penguasa yang menzhalimi dirinya. Ini tidak lepas dari pribadi Sufyan yang suka berkata benar, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah  SAW melalui hadits-hadits.

Diriwayatkan bahwa yang menjadi khalifah pada masa itu ketika shalat di de­pan Sufyan memutar-mutar kumis­nya.

Setelah selesai shalat, Sufyan ber­seru kepadanya, “Engkau tidak pantas melakukan shalat seperti itu. Di Padang Mahsyar nanti shalatmu itu akan dilem­parkan ke mukamu bagai sehelai kain lap yang kotor.”

“Berbicaralah yang sopan,” tegur Khalifah.

“Jika aku enggan melakukan tang­gung jawabku ini,” jawab Sufyan, “se­moga kencingku berubah menjadi darah.”

Khalifah marah mendengar kata-kata Sufyan, lalu memerintahkan pra­juritnya untuk memenjarakan dan meng­hukum gantung dirinya.

Ketika dipenjara, Sufyan berdoa, “Ya Allah, sergaplah mereka seketika ini juga.”

Pada saat itu Khalifah sedang duduk di atas takhta dikelilingi oleh menteri-menterinya. Tiba-tiba petir menyambar istana dan Khalifah beserta menteri-menterinya itu ditelan bumi.

Setelah peristiwa itu, Sufyan mening­galkan Irak dan pergi ke Makkah.

Di Makkah, ia lebih banyak tinggal di tempat-tempat sunyi. Di sinilah ia mem­perlihatkan kehidupannya sebagai sufi yang suci.

 

Al-Faqir Ilallah

Banyak teladan yang dapat kita tiru dari pengalaman hidup Sufyan Ats-Tsauri.

Diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Abi Ibad Al-Makki, ia berkata, “Seorang syaikh yang dijuluki ‘Abu Abdillah’ men­datangi kami. Ia berkata, ‘Pada waktu sahur, aku pergi ke sumur Zamzam. Di tempat ini aku bertemu seorang syaikh yang membiarkan kainnya menutupi wa­jahnya. Ia datang ke sumur dan minta di­ambilkan air. Kemudian aku mengam­bilkan air untuk syaikh tersebut. Aku juga meminum sebagian air itu. Ternyata rasa air tersebut seperti belum pernah aku rasakan. Ketika aku menoleh, syaikh ter­sebut telah pergi.

Pada waktu sahur hari kedua, aku pergi ke sumur Zamzam lagi. Aku me­lihat seorang syaikh masuk dari arah pintu masjid dengan menutupkan kain di wajahnya juga. Ia menuju sumur dan minta diambilkan air. Setelah minum, ia pergi. Aku minum air sisanya, terasa lebih enak dari sebelumnya.

Pada malam ketiga, ia datang lagi ke sumur dan meminta air. Lalu aku me­megang ujung selimut tebalnya, ia me­nangkap tanganku. Aku juga minum air sisanya, terasa seperti air susu manis yang aku belum pernah merasakan mi­numan senikmat itu.

Aku bertanya kepada syaikh terse­but: Demi Pemilik Baitullah ini, sebenar­nya siapa Tuan?

Ia bertanya: Sanggupkah kamu me­rahasiakannya?

Aku menjawab: Ya.

Ia berkata: Aku Sufyan Ats-Tsauri’.”

Dalam kehidupan sunyinya, Sufyan Ats-Tsauri menjalani kehidupan seorang al-faqir ilallah. Ia miskin di hadapan Allah. Tak hanya itu, ia juga miskin di hadapan manusia lainnya.

Dalam suatu kisah, Sufyan Ats-Tsauri mengambil sebongkah tanah yang kemudian ia jadikan sebagai bantal saat ia berada di Muzdalifah, pada waktu menunaikan ibadah haji.

Salah seorang yang mendapatinya pun bertanya, “Tuan menjadikan tanah sebagai bantal tidur? Tuan adalah se­orang ahli hadist di dunia.”

Sufyan Ats-Tsauri menjawab, “Ban­talku ini jauh lebih nikmat daripada bantal Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur.”

“Seandainya tangan saya dijulurkan kepada Tuan dengan hina, akan ditebas oleh mata pedang sebelum ia sampai.”

Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah atas kami.” (QS At-Tawbah: 51).

Sufyan wafat pada tahun 126 H/748.

 

SB, dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s