HABIB Ali bin Abubakar As-Sakran


Syaik Ali bin Abubakar Sakran lahir di Tarim pada tahun 818 hijriyah, hafal alquran dan membacanya mujawwad dengan dua riwayat yaitu Abi Amru dan Nafi’, hafal kitab al-Hawi karangan al-Quzwani (baik kitab fiqih dan kitab nahwu), beliau juga seorang  guru besar ilmu syariat.

Kakeknya meninggal ketika ia berusia tiga tahun. Ketika ibunya mengandung, ayahnya syaikh Abubakar Sakran memberitahukan kepada isterinya bahwa anak yang dikandungnya mempunyai maqam yang agung. Syaikh Abubakar Sakran berkata : Sesungguhnya ketika anakku sedang dalam kandungan telah terkumpul pada diri syaikh Ali dua jenis ilmu, akan tetapi hal tersebut masih tersembunyi dan akan terlihat sebelum rambutnya memutih’.

Dan ketika syaikh Ali lahir  berkata kakeknya al-Muqaddam Tsani Abdurrahman Assaqaf, ‘Sesungguhnya kelahiran anak Abubakar adalah kelahiran seorang sufi’. Pada malam ke tujuh kalahirannya berkata saudaranya syaikh Abdullah Alaydrus : ‘Namakan ia dengan Ali’.

Sesudah ayahnya wafat, beliau diasuh oleh pamannya syaikh Umar Muhdhar , yang menjaganya dari hal-hal yang merusak serta mendidiknya dengan kebaikan. Ketika pamannya wafat, beliau masuk khalwat. Dalam khalwatnya beliau mendengar suatu panggilan : ‘Ya ayyuhannafsu mutmainah irji’I ila robbika radhiyamatammardiyah’, kemudian beliau keluar dari khalwatnya dan membaca kitab ihya ulumuddin, maka dibacanya kitab tersebut sampai dua puluh lima kali tamat, setiap tamat dalam membaca kitab tersebut, saudaranya syaikh Abdullah Alaydrus mengundang para fuqaha dan masakin untuk mengadakan tasayakuran.

Guru-guru beliau di antaranya ayahnya Abubakar Sakran, pamannya syaikh Umar Muhdhar, syaikh Saad bin Ali, syaikh Shondid, Muhammad bin Ali shohib shohib Aidid. Belajar fiqih dan hadits kepada al-faqih Ahmad bin Muhammad Bafadhal. Beliau juga belajar ke Syihir, Gail Bawazir. Di Gail Bawazir beliau belajar kepada para fuqaha dari keluarga Ba’amar, al-Baharmiz, syaikh Abdullah bin Abdullah bin Abdurrahman Bawazir, dan tinggal di sana selama empat tahun. Setelah itu beliau pergi ke Aden belajar kepada Imam Mas’ud bin Saad Basyahil, kemudian mennaikan ibadah haji ke baitullah pada tahun 849 hijriyah dan tinggal di rubat Baziyad serta belajar kepada ulama di kota tersebut. Kemudian beliau berziarah ke makam Rasulullah saw dan membaca kita al-Bukhari kepada Imam Zainuddin Abi Bakar al-Atsmani di masjid nabawi.

Murid-murid syaikh Ali bin Abibakar Sakran di antaranya anak-anaknya yang bernama Umar, Muhammad, Abdurrahman, Alwi, Abdullah dan sayid Umar bin Abdurrahman shohibul Hamra, syaikh Abubakar  al-Adeni  Alaydrus, syaikh Muhammad bin Ahmad Bafadhal, syaikh Qasim bin Muhammad bin Abdullah bin syaikh Abdullah al-Iraqi, syaikh Muhammad bin Sahal Baqasyir, syaikh Muhammad bin Abdurrahman Bashuli.

Syaikh Ali seorang  auliya’ yang mempunyai kefasihan lidah, terkumpul padanya keutamaan dan kepemimpinan, beliau juga banyak mengkaji kitab Tuhfah dan mengamalkan isinya, banyak shalat malam dan sesudahnya beliau banyak menangis, seorang yang mempunyai sifat qanaah, tawadhu’. Di antara keistimewaannya jika shalat, beliau lupa akan kehidupan duniawi dan tidak pernah membicarakan dunia dalam majlisnya. Beliau pernah ditanya oleh gurunya syaikh Said bin Ali pada keadaan menghadapi sakaratul maut, ‘Apa yang engkau tinggalkan?’ Beliau menjawab hanya kamar ini.

Berkata saudaranya Abdullah Alaydrus, ‘Orang yang paling dekat hatinya kepada Allah adalah hati saudaraku Ali’. Berkata pula syaikh Abdullah Alaydrus, ‘Sesungguhnya apa yang ada pada diriku karena saudaraku Ali, jika terbenam sinar matahari saudaraku Ali, maka terbenam pula sinar matahariku’. Berkata syaikh Umar Muhdhar kepada anaknya Fathimah sebelum dinikahi dengan syaikh Ali, ‘Wahai Fathimah, nanti engkau akan menikah dengan seorang wali quthub’.

Syaikh Muhammad bin Hasan Jamalullail berkata : ‘Dalam shalat aku berdoa kepada Allah swt agar diperlihatkan kepada seseorang yang mempunyai rahasia-rahasia-Nya dalam zaman ini, maka aku melihat dalam mimpiku seorang lelaki mengambil tanganku dan membawanya kepada syaikh Ali’.

Syaikh Ali seorang yang berjalan di atas thariqah kefakiran yang hakiki, dalam thawafnya beliau berdoa : ‘Allahumma ij’alni nisfal faqir’ (Ya Allah jadikanlah aku dalam keadaan setengah fakir), tidak mempunyai perasaan benci kepada satu orang pun, membaca hizib di antara isya dan setelah hingga terbit matahari. Beliau juga hafal alquran dalam waktu empat puluh hari.

Kitab yang telah dibacanya : Riyadhus Salihin, Minhajul Abidin, al-Arbain, Risalah al-Qusyairiyah, al-Awarif al-Ma’arif, I’lamul Huda, Bidayatul Hidayah, al-Muqtasid al-Asna, al-Ma’rifah, Nasyrul Mahatim, Sarah Asmaul Husna dan lainnya.

Sebagian ulama berkata : ‘ Sesungguhnya memandang beliau menghilangkan kekotoran jiwa, kedudukan dan rahasia al-faqih al-muqaddam ada pada beliau’. Berkata  syaikh Muhammad bin Ali al-Khirrid ; ‘Memandang beliau adalah obat bagi yang melihat, dan perkataannya obat penawar yang mujarrab’.

Syaikh Ali bin Abibakar Sakran wafat pada hari Minggu tanggal dua belas bulan Muharram tahun 895 hijriyah dalam usia 77 tahun. Keturunan beliau di antaranya adalah keluarga al-Wahath, al-Musayyah, al-Umar Faqih, al-Bin Ahsan (Banahsan) , al-Masyhur, al-Zahir, al-Hadi dan al-Shahabuddin.

as-Sayyid al-Imam al-Quthb al-Fakhrul Wujud al-Habib Syekh Abu Bakar bin Salim Rodliyallahu ‘anh

Berkata as-Sayyid al-Imam al-Quthb al-Fakhrul Wujud al-Habib Syekh Abu Bakar bin Salim Ra: “Nadziriy wa nadziro nadziriy dakholal jannah.” (Orang yang melihatku dan orang yang melihat orang yang pernah melihatku akan masuk Syurga)

Shohibul Maulid Simthud Durror as-Sayyid al-Imam al-Qutb al-Habib ‘Ali al-Habsyi Ra: “Di zaman Syekh Abu Bakar bin Salim Ra hidup, Qolam di Lauhil Mahfudz tidak bergerak mencatat keburukan ahli zaman.”

Syekh Abu Bakar bin Salim di lahirkan pada tanggal 13 Jumadil Akhir 919 H di kota Tarim, Yaman. Ia tumbuh dewasa menjadi seorang tokoh sufi yang masyhur sekaligus seorang ‘alim dan mengamalkan ilmunya. Ayahandanya, al-Habib Salim bin ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman bin ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman as-Seggaf. Sedangkan ibunya adalah Syarifah Thalhah binti Aqil bin Ahmad bin Abu Bakar as-Sakran bin ‘Abdurrahman as-Seggaf.

Kegembiraan Syekh Abu Bakar bin Salim dalam menekuni ilmu pengetahuan di buktikannya dengan menghatamkan Ihya’ Ulumuddin-nya Hujjatul Islam al-Ghazali sebanyak 40kali dan menghatamkan kitab Fiqh Syafi’iyah, al-Minhaj karya Imam Nawawi sebanyak 3kali. Dan di antara kebiasaannya adalah memberikan ceramah kepada masyarakat setelah Sholat Jum’at.

Di antara ibadah dan riyadlohnya, pernah dalam waktu yang cukup lama ia berpuasa dan hanya berbuka dengan kurma yang masih hijau, juga selama 90 hari ia berpuasa dan sholat malam di lembah Yabhur dan selama 40 tahun beliau sholat Shubuh di Masjid Baa Isa di kota Lisk dengan wudlu’ Isya’. Setiap malam ia berziarah ke tanah pekuburan Tarim dan berkeliling untuk melakukan sholat di berbagai Masjid di Tarim di akhiri dengan Sholat Shubub berjamaah di Masjid Baa Isa. Sepanjang hidupnya ia berziarah ke makam Nabiyullah Hud As sebanyak 40 kali. Setiap malam selama 40 tahun ia berjalan dari Lisk menuju Tarim melakukan Sholat di setia masjid di Tarim, mengusung air untuk mengisi tempat wudlu’, tempat minum bagi para peziarah dan kolam tempat minum hewan. Dan sampai akhir hayatnya Sang Syekh tidak pernah meninggalkan Shalat Witir dan Dhuha.

Beliau di kenal sebagai seorang yang tawadlu’, tidak ada seorangpun yang pernah melihatnya duduk bersandar atau bersila. Syekh
‘Abdurrahman bin Ahmad Ba Wazir, seorang yang faqih berkata: “Selama 15 tahun sebelum wafatnya di dalam berbagai majelisnya baik bersama kaum khusus atau awam, Syekh Abu Bakar bin Salim tidak pernah terlihat duduk kecuali dalam posisi duduknya orang yang sedang Tasyahud akhir.”

Berkata as-Sayyid al-Imam al-Fakhrul Wujud al-Habib Syekh Abu Bakar bin Salim Ra: “Seandainya aku tidak malu dengan Rosul Allah SAW niscaya aku padamkan api neraka dengan kelingkingku saja.”

Syair Syekh Umar Ba Makhramah seorang wali besar untuk Syekh Abu Bakar bin Salim Ra: “Wahai emas sejati dengan Pandangan-Nya Allah
memeliharamu. Semua lembah yang luas menjadi kecil di banding lembahmu.”

Habib Ali bin Abu Bakar As-Sakran bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf bin Syekh Muhammad Maula Ad-Dawilayh bin Syekh Ali Shohibud Dark bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad bin Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein. Rodiyallahu ‘Anhum Ajma’in.

Habib Ali lahir di Tarim pada tahun 818 hijriyah, hafal alquran dan membacanya mujawwad dengan dua riwayat yaitu Abi Amru dan Nafi’, hafal kitab al-Hawi karangan al-Quzwani (baik kitab fiqah dan kitab nahwu), guru besar ilmu syariat.
Kakeknya meninggal ketika ia berusia tiga tahun. Ketika ibunya mengandung Syaikh Ali, ayahnya Syaik Abu Bakar As-sakran memberitahukan kepada isterinya bahwa anak yang dikandungnya mempunyai maqam yang agung. Syaikh Abu Bakar sakran berkata: “Sesungguhnya ketika anakku sedang dalam kandungan telah terkumpul pada diri Syaikh Ali dua jenis ilmu, akan tetapi hal tersebut masih tersembunyi dan akan terlihat sebelum rambutnya memutih”. Dan ketika Syaikh Ali lahir berkata kakeknya: “Sesungguhnya kelahiran anak Abu Bakar adalah kelahiran seorang sufi”. Pada malam ke tujuh kelahirannya berkata saudaranya Syaikh Abdullah Alaydrus: “Namakan ia dengan Ali”.
Sesudah ayahnya wafat beliau diasuh oleh pamannya Syaikh Umar Muhdhar yang menjaganya dari hal-hal yang merusak serta mendidiknya dengan kebaikan. Ketika pamannya wafat, beliau masuk khalwat dan mendengar suatu perkataan ‘Ya ayyuhannafsu mutmainah irji’i ila robbika rodhiyatammardiyah’ kemudian beliau keluar dari khalwatnya dan mambaca kitab Ihya Ulumuddin, maka dibacanya kitab tersebut sampai dua puluh lima kali tamat dan pada setiap khatam dalam mambaca kitab , saudaranya Syaikh Abdullah Alaydrus mengundang para fuqara dan masakin untuk mengadakan tasyakuran.
Guru-guru beliau di antaranya Syaikh Saad bin Ali, Syaikh Shondid Muhammad bin Ali Shohib Aidid, belajar fiqih dan hadits kepada al-Faqih Ahmad bin Muhammad Bafadhal. Beliau juga belajar ke Syihir, Gail Bawazir. Di Gail Bawazir beliau belajar kepada para fuqaha dari keluarga Ba’amar, al-Faqih Muhammad bin Ali Ba’adillah. al-Allamah Ibrahim bin Muhammad Baharmiz, Syaikh Abdullah bin Abdullah bin Abdurahman Bawazir, dan tinggal di sana selama empat tahun. Setelah itu beliau pergi ke Aden belajar kepada Imam Mas’ud bin Saad Basyahil, kemudian menunaikan ibadah haji ke Baitillah pada tahun 849 hijriyah dan tinggal di rubat Baziyad serta belajar kepada ulama di kota tersebut. Kemudian beliau ziarah ke makam Rasulullah saw dan membaca kitab al-Bukhori kepada Imam Zainuddin Abi Bakar al-Atsmani di masjid nabawi.
Murid-murid Imam Ali di antaranya anak-anaknya Umar, Muhammad, Abdurahman, Alwi, Abdullah dan Sayid Umar bin Abdurahman Shahibul Hamra’, Syaikh Abu Bakar al-Adeni, Syaikh Muhammad bin Ahmad Bafadhal, Syaikh Qasim bin Muhammad bin Abdullah bin Syaikh Abdullah al-Iraqi, Syaikh Muhammad bin Sahal Baqasyir, Syaikh Muhammad bin Abdurahman Basholi.
Imam Ali seorang auliya’ yang mempunyai kefasihan lidah, terkumpul padanya keutamaan dan kepemimpinan, beliau juga banyak mengkaji kitab ‘Tuhfah’ dan mengamalkan isinya, banyak shalat malam dan sesudahnya beliau banyak menangis, qana’ah, tawadhu’. Di antara keramatnya, jika shalat beliau lupa akan kehidupan duniawi dan tidak pernah membicarakan dunia dalam majlisnya. Beliau pernah ditanya oleh gurunya Syaikh Said bin Ali pada keadaan menghadapi sakaratul maut: ‘Apa yang engkau tinggalkan? Beliau menjawab hanya kamar ini.
Berkata saudaranya Abdullah Alaydrus: “Orang yang paling dekat hatinya kepada Allah adalah hati saudaraku Ali”. Berkata pula Syaikh Abdullah Alaydrus: “Sesungguhnya apa yang ada pada diriku karena saudaraku Ali, jika terbenam sinar matahari saudaraku Ali, maka terbenam pula sinar matahariku”. Berkata Syaikh Umar Muhdhar kepada anaknya Fathimah sebelum dinikahi dengan Syaikh Ali: “Wahai Fathimah, nanti engkau akan menikah dengan seorang wali quthub”.
Syaikh Muhammad bin Hasan Jamalullail berkata: “Dalam shalat aku berdoa kepada Allah swt agar diperlihatkan kepada seseorang yang mempunyai rahasia-rahasia-Nya dalam zaman ini, maka aku melihat dalam mimpiku seorang lelaki mengambil tanganku dan membawanya kepada Syaikh Ali”.
Imam Ali seorang yang berjalan di atas thariqah kefakiran yang hakiki, dalam tawafnya beliau berdoa: “Allahummajlni nisfal faqir” , tidak mempunyai perasaan benci kepada satu orang pun, membaca hizib di antara isya dan setelah fajar hingga terbit matahari, beliau hafal alquran dalam waktu empat puluh hari. Kitab yang telah dibacanya: Riyadhus Salihin, Minhajul Abidin, al-Arbain, Risalah al-Qusyairiyah, al-Awarif al-Ma’arif, I’lamul Huda, Bidayatul Hidayah, al-Muqtasid al-Asna, al-ma’rifah, Nasyrul Mahatim, Sarah Asmaul Husna dan lainnya.
Sebagaian ulama berkata: “Sesungguhnya memandang beliau menghilangkan kekotoran jiwa, salah satu keistimewaan beliau dapat meruntuhkan gunung, kedudukan dan rahasia al-Faqih al-Muqaddam terdapat padanya”. Berkata Imam Nuhammad bin Ali Khirid: “Memandang beliau adalah obat bagi yang melihat dan perkataannya obat penawar yang mujarrab”.
Imam Ali wafat pada hari Minggu tanggal dua belas Asysyuro tahun 895 hijriyah dalam usia 77 tahun.

Keluarga Habib Ali bin Abu BAKAR AS-SAKRAN

Syaikh al-Imam Ali Bin Abi Bakar As-Sakran (Syaikh al-Thoriqain Wa Mufti al-Fariqoin), wafat di Tarim tahun 895 H. Maqamnya bersebelahan dengan makam pamannya Syaikh Umar Muhdhar. Beliau dikarunia tujuh orang anak laki dan lima anak perempuan, yaitu:
Anak perempuannya:
1. Al-waliyah Bahiyah (ibu Ahmad al-Musawa dan Fathimah bt. Abi Bakar al-Adeni)
2. Alwiyah (ibu anak-anak Muhammad Ar-Rahilah)
3. Ruqayah (ibu Aisyah bt. Abdurahman Bamagfun)
4. Maryam
5. Aisyah

Anak laki-lakinya:
1. Abdurahman

2.Muhammad Mihdhar. ibunya Fathimah bt. Syaikh Umar
3. Umar
4. Abdullah (anaknya bernama Musyayyah lahir di Tarim dan wafat tahun 976 H, keluarga Musyayyah di India, Habasyah dan di Jawa)
5. Alwi (wafat tahun 797 H)
6. Hasan (wafat tahun 952 H)
7. Abu Bakar (keturunannya terputus,wafat th 920 H)

1. Syaikh Muhammad Bin Ali bin Abi Bakar As-Sakran.
Beliau wafat di Tarim tahun 902 H. Keturunannya adalah:
a. Aal Abdullah bin Alwi (Rubat Yaman)
b. Aal Muhammad bin Alwi (Yaman)
c. Aal Saqqaf bin Umar (Khamilah)
d. Aal Abu Bakar al-Irosyah (Abyan, Lihij, Guyus, India)

2. Syaikh Umar Bin Ali bin Abi Bakar As-Sakran.
Beliau wafat di Wahath tahun 899 H. Keturunannya di Yaman, Makhodir, Rubat Shofa, Hanfar, Abin dan Bilad Rishos.

3. Syaikh Abdullah bin Ali Bin Abi Bakar As-Sakran.
Beliau wafat di Tarim tahun 941 H. Ayah dari Syaikh Musyayyah, dan dikaruniai dua orang anak laki, bernama:
a. Abdullah (keturunannya di India, Malabar dan Hijaz)
b. Abdurahman (keturunannya di Habasy dan Jawa).

4. Syaikh Hasan Bin Ali Bin Abi Bakar As-Sakran.
Beliau wafat di Tarim tahun 956 H. Dikaruniai tiga orang anak laki, bernama:
a. Muhammad al-Qadhi (wafat di Tarim tahun 973, keturunannya terputus)
b. Umar (wafat tahun 1007 H)
c. Ali.

5. Syaikh Abdurahman Bin Ali Bin Abi Bakar As-Sakran.
Beliau wafat tahun 923 H. Dikaruniai tiga orang anak laki, bernama:
a. As Syech Al Imam Ahmad Syahabuddin (wafat tahun 946 H), mempunyai tiga orang anak:
Uraian mengenai keturunan As Syech Al Imam Ahmad Syahabuddin Al Akbar
As Syech Al Imam Ahmad Shahabuddin Al Akbar, lahir 887 H dan wafat di Tarim tahun 946 H. mempunyai 3 orang putra, yakni:
Umar, wafat di Tarim 957 H. keturunannya ada di Tarim. Mempunyai 4 orang putra yaitu :
1. Husin, wafat di Tarim 997 H, mempunyai 4 orang putra kemudian terputus.
2. Ali, wafat di Tarim 991 H, keturunannya terputus pada generasi ke 3.
3. Abdullah, wafat di Makkah 992 H, keturunannya terputus pada generasi kedua.
4. Syahabuddin, wafat 982 H mempunyai 3 orang putra yakni:
• Abdurrahman, keturunannya terputus.
• Muhammad, keturunannya terputus.
• Umar Al Mahjub, keturunannya tersebar ke Malabar, Taliwang (Sumbawa), Dzofar (Oman), Palembang, Gresik, Tarbeh, India dan Abi Aris.
Muhammad Al Hadi As Syahid, wafat Syahid di India 971 H. Mempunyai 4 orang putra yaitu:
1. Alwi, terputus.
2. Ahmad, mempunyai anak Umar Al Mahzub, terputus.
3. Husin, keturunannya dalam jumlah kecil tersebar di Aden dan Tarim.
4. Idrus, keturunannya masuk India kemudian tersebar ke Pekalongan, Bulungan, Singapura, Bogor, Jakarta dan Palembang. Keturunan ini sebagian besar memakai gelar Syahabuddin/Shahab, sebagian kecil memakai gelar Al Hadi Al Ahmad Syahabuddin Al Akbar.
Abdurrahman Al Qadhi, lahir 944 dan wafat di Tarim 1041 H. Mempunyai 5 orang putra yakni:
1. Abubakar, wafat di Tarim 1061 H, keturunannya tersebar di Malabar, Jakarta, Pekalongan, India dan Palembang.
2. Umar, mempunyai anak Abdullah (wafat di Besuki 1067 H), Abdullah mempunyai anak Muhammad (wafat 1088 H), keturunannya terputus.
3. Muhammad Al Hadi, wafat di Tarim 1040 H, keturunannya tersebar di Aden, Malaka, Gresik, Malabar, Tarim, Bogor, Pulau Pinang, Banjarmasin, Samarinda, Sumbawa, Ampenan, Surabaya dan Palembang.
4. Abdullah, datuk dari Al Hadi bin Ahmad yang ada di Malabar.
5. Ahmad Syahabuddin Al Asghor, wafat di Tarim 1036 H, mempunyai 4 orang putra yakni:
• Umar, terputus.
• Abdullah, terputus.
• Husin, keturunannya terputus.
• Muhammad, wafat di Tarim 1100 H. mempunyai 4 orang putra yakni:
1. Idrus, wafat di Tarim 1163 H. keturunannya menyebar di Malaka, Kedah, Pulau Penang, Palembang (Pegayut). Kelompok ini dipanggil dengan Al Zein bin Idrus Syahabuddin.
2. Ali, wafat di Tarim 1104 H. mempunyai 4 orang putra yakni :
• Ahmad, wafat waktu kecil di India, terputus.
• Muhdhor, keturunannya terputus pada generasi ke 2.
• Idrus, wafat di Tarim Jumadil Awwal 1128 H, kelompok ini di panggil dengan Al Bin Idrus Syahabuddin. keturunannya tersebar di Tarim, Gresik, Jakarta, Pekalongan, Dhamun (Hadramaut), Solo, Singapura, Surabaya, Batu Pahat (Kalimantan), dan Palembang.
• Muhammad wafat tahun 1107 H mempunyai 3 orang putra yakni:
i. Ahmad, (wafat di Thoif), mempunyai seorang putri, keturunannya terputus.
ii. Syech, wafat di Tarim 1173 H. keturunannya tersebar di Tarim, Bogor, Jakarta, Banyuwangi, Dhamun (Hadramaut), Pekalongan, Bangka dan dalam jumlah yang sangat besar di Palembang. Di dalam keluarga Syahabuddin, keluarga ini disebut Syahabuddin Al bin Syech.
iii. Husin, wafat di Tarim 1144 H. keturunannya tersebar di Pulau Penang, Kedah, Banjarmasin, Pekalongan, Muar (Malaysia), Cirebon, Toboali (Bangka), Jakarta, Semarang, Singapura, Madura, India, Amman dan dalam jumlah yang sangat besar mereka ada di Palembang. Di dalam keluarga Syahabuddin, keluarga ini disebut Syahabuddin Al bin Husin. Al Habib Husin ini berputra 2 yaitu:
• Muhammad Az Zhahir (wafat di Palembang), keluarga ini disebut sebagai “Syahabuddin Az Zhahir bin Husin”
• Abdullah, wafat di Tarim 1183 H.
Di dalam keluarga Syahabuddin keluarga ini disebut “Syahabuddin Al bin Husin”
3. Umar, wafat di India, keturunannya dalam jumlah sedikit ada di Oman.
4. Ahmad Syahabuddin, mempunyai anak Muhammad Al Masyhur (datuk dari Al Habib Mufti Hadramaut shohibul Fatwa As Syech Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur). keturunannya ada di Jakarta, Singapura, Surabaya, Sailon, Tarim, Sumenep, Palembang dan Batu Pahat (Banjarmasin). Keluarga ini didalam ilmu nasab disebut “Al Masyhur Syahabuddin”.
b. Muhammad al-Faqih (wafat tahun 973 H), keturunannya:
1. Aal Umar Faqih (Deli-Medan, Jawa)
2. Aal Abdullah dan Husin (shohib Bathiha’, keturunannya terputus)
3. Aal Muhammad al-Tamar (Malabar, Madinah)
c. Abu Bakar, keturunannya:
1. Aal Ruus (Qasyan)
2. Aal Ahmad bin Abi Bakar (Taiz, Mukallah)
3. Aal Ahmad bin Idrus (Shohib Khoris)

KELUARGA HASAN BIN ALI BIN ABI BAKAR AS-SAKRAN
Hasan bin Ali mempunyai anak bernama: Umar, beliau dikarunia tiga orang anak, bernama:
1. Ali (kakek Al Ba Hasan di Tarim, Jawa dan Kalimantan), mempunyai seorang anak laki bernama:
• Al-allamah Abdullah (shohibul Wahath, wafat tahun 1037 H), keturunannya adalah keluarga al-Wahath.
2. Hasan (kakek Usman bin Abdurahman, ayah dari Sultan Siak, keluarganya dikenal dengan keluarga Bin Syahab)
3. Muhammad (keturunannya di Sawahil, Siwi dan Zanjibar, wafat tahun 1019 H)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s