Aqidah Syi’ah


Firqah ini tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi mendakwakan dirinya sudah masuk Islam, namanya Abdullah bin Saba’. Mendakwakan kecintaan terhadap ahli bait, dan terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan, bahwa Ali punya wasiat untuk mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali sampai ke tingkat Ketuhanan, hal ini diakui oleh buku-buku syi’ah sendiri.

Al Qummi berkata dalam bukunya “Al Maqaalaat wal Firaq[1] : “Ia mengakui keberadaannya, dan menganggapnya orang pertama yang berbicara tentang wajibnya keimaman Ali, dan raj’iyah Ali[2], dan menampakkan celaan terhadap Abu Bakar, Umar dan Utsman serta seluruh sahabat, seperti yang dikatakan oleh An Nubakhti di bukunya “Firaqus Syi’ah[3]. Sebagaimana Al Kissyi mengatakan demikian juga di bukunya yang dikenal dengan “Rijaalul Kissyi[4]. Pengakuan adalah tuan argumen (argumen yang akurat), dan mereka-mereka ini semuanya adalah syaikh-syaikh besar Rafidhah.”

Al Baghdadi berkata : “Kelompok Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba’ yang telah berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan mendakwakan, bahwasanya Ali adalah nabi, kemudian bersikap berlebih-lebihan lagi, sehingga ia mendakwakan bahwasanya Ali adalah Allah.”

Al Baghdadi berkata juga : “Adalah ia (Abdullah bin Saba’) anak orang berkulit hitam, asal usulnya adalah orang Yahudi dari penduduk Hirah (Yaman), lalu mengumumkan keislamannya, dan menginginkan agar ia mempunyai kerinduan dan kedudukan di sisi penduduk negeri Kufah, dan ia juga menyebutkan kepada mereka, bahwasanya ia membaca di Taurat, bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap nabi punya orang yang diwasiatkan, dan sesungguhnya Ali adalah orang yang diwasiatkan Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam.”

Dan As Syahrastaani menyebutkan dari ibnu Saba’, bahwasanya ia adalah orang yang pertama kali menyebarkan perkataan keimaman Ali secara nas / telah ditetapkan, dan ia menyebutkan juga dari kelompok Sabaiyah, bahwa kelompok ini adalah firqah (golongan) yang pertama sekali  mengatakan masalah ghaibah[5] dan akidah raj’iyah, kemudian syiah mewarisinya setelah itu, meskipun mereka itu berbeda, dan pecahan golongan mereka banyak. Perkataan tentang keimaman dan kekhilafan Ali merupakan nas dan wasiat, itu merupakan dari kesalahan-kesalahan Ibnu Saba’. Yang akhirnya syi’ah sendiri berpecah menjadi golongan-golongan dan perkataan-perkataan yang banyak sampai puluhan golongan dan perkataan.

Begitulah syiah membuat bid’ah dalam perkataan tentang keyakinan wasiat, raj’iyah, ghaibah, bahkan perkataan menjadikan imam-imam sebagai tuhan[6], karena mengikuti Ibnu Saba’ orang yahudi itu.

[1] Lihat “Al Maqaalaat wal Firaq” oleh Al Qummi, hal : 10-21

[2] Keyakinan bahwa Ali akan kembali ke dunia sebelum hari kiyamat

[3] Lihat “Firaqus Syi’ah” oleh An Nubakhti, hal : 19-20

[4] Lihat : apa yang dicantumkan oleh Al Kissyi dalam beberapa riwayat dari Ibnu Saba’ dan akidah-akidahnya, lihat no : 170, 171, 172, 173, 174, dari hal : 106-108

[5] Keyakinan menghilangnya imam Askari yang mereka tunggu-tunggu

[6] Ushul ‘Itiqad Ahli Sunnah Wal Jama’ah, Al Lalikaai, 1/22-23

 

Kenapa Syi’ah Dinamakan Dengan Rafidhah?

Penamaan ini disebutkan oleh syaikh mereka Al Majlisi dalam bukunya “Al Bihaar” dan ia mencantumkan empat hadits dari hadits-hadits mereka[1].

Ada yang mengatakan : mereka dinamakan rafidhah, karena mereka datang ke Zaid bin Ali bin Husein, lalu mereka berkata : “Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakar dan Umar sehingga kami bisa bersamamu!”, lalu beliau menjawab : “Mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) adalah sahabat kakekku, bahkan aku setia kepada mereka”. Mereka berkata : “Kalau begitu, kami menolakmu (rafadhnaak) maka dinamakanlah mereka Raafidhah (yang menolak), dan orang yang membai’at dan sepakat dengan Zaid bin Ali bin Husein disebut Zaidiyah[2].

Ada yang mengatakan : mereka dinamakan dengan Raafidhah, karena mereka menolak keimaman (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar[3]. Dan dikatakan mereka dinamakan dengan Rafidhah karena mereka menolak agama[4].


[1] Lihat buku : Al Bihaar, oleh Al Majlisi, hal : 68-96-97. (Dia ini merupakan salah seorang tempat bertanya orang-orang rafidhah (syi’ah) untuk zaman-zaman terakhir).

[2] At Ta’liiqaatu ‘Ala Matni Lum’atil ‘Itiqaad, oleh : Syeikh Alaamah Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, -semoga Allah menjaganya-, hal : 108.

[3] Lihat : catatan kaki buku Maqaalaat Al Islamiyiin, oleh Muhyiddin Abdul Hamid, (1/89).

[4] Lihat : di buku Maqaalaat Al Islamiyiin, (1/89).

 

Rafidhah Terpecah Menjadi Berapa Firqoh (Golongan)?

Ditemukan di dalam buku Daairatul Ma’arif bahwasanya : golongan yang muncul dari cabang-cabang syi’ah jauh melebihi dari angka tujuh puluh tiga golongan yang terkenal itu[1].

Bahkan dikatakan oleh seorang rafidhah Mir Baqir Ad Damaad[2], sesungguhnya seluruh firqoh-firqoh yang tersebut dalam hadits, yaitu hadits berpecahnya umat ini menjadi tujuh puluh tiga golongan, maksudnya adalah firqoh-firqoh syi’ah. Dan sesungguhnya golongan yang selamat itu dari mereka adalah golongan Imamiyah.

Al Maqrizi menyebutkan bahwa jumlah firqoh-firqoh mereka itu sampai 300 (tiga ratus) firqoh[3].

As Syahrastaani berkata : “Sesungguhnya Rafidhah terbagi menjadi lima bagian : Al Kisaaniyah, Az Zaidiyah, Al Imamiyah, Al Ghaliyah dan Al Ismailiyah[4].”

Al Baghdadi berkata : “Sesungguhnya Rafidhah setelah masa Ali ada empat golongan : Zaidiyah, Imamiyah, Ghulaah dan Kisaaniyah.[5]

Perlu diperhatikan bahwa sesungguhnya Az Zaidiyah tidak termasuk dari firqoh-forqoh Rafidhah, kecuali kelompok Al Jarudiyah.


[1] Daairatul Ma’arif, (4/67).

[2] Dia adalah Muhammad Baqir bin Muhammad Al Asadi, termasuk tokoh besar syi’ah

[3] Dia adalah Al Maqrizi du Al Khuthath, ((2/351).

[4] Al Milal wan Nihal, oleh As Syahrastani, hal :147

[5] Al Farqu Bainal Firaq, oleh Al Baghdadi, hal : 41

 

Apakah yang dimaksud dengan akidah Al Badaa’ yang diimani oleh Rafidhah?

Al Badaa’ yaitu bermakna tampak (muncul) setelah sembunyi, atau bermakna timbulnya pandangan baru. Al Badaa’ sesuai dengan kedua makna itu, haruslah didahului oleh ketidaktahuan, serta baru diketahui. Keduanya ini merupakan suatu hal yang mustahil atas diri Allah, akan tetapi orang Rafidhah (syiah) menisbatkan kepada Allah sifat Al Badaa’.

Telah diriwayatkan dari Ar Rayaan bin Al Sholt, ia berkata : “Saya telah mendengar Al Ridha berkata : “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali mengharamkan khamar, dan mengakui bahwa Allah itu memiliki sifat Al Badaa’”[1].  Dan dari Abi Abdillah ia berkata : “Tidak pernah Allah diibadati dengan sesuatu apapun seperti (mengibadatinya dengan) Al Badaa’[2]. Maha Tinggi Allah dari hal itu dengan ketinggian yang besar.

Lihatlah wahai saudaraku muslim, bagaimana mungkin mereka menisbatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sifat jahal (ketidaktahuan), sedangkan Dia mengatakan tentang diri-Nya :

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah!, Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang tahu ghaib kecuali Allah.” (an naml: 65)

Dan di sisi lain Rafidhah (syi’ah) meyakini bahwa sesungguhnya para imam mengetahui seluruh ilmu, dan tidak akan tersembunyi baginya sesuatu apapun.

Apakah ini akidah/keyakinan Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam- ???.


[1] Ushulul Kafi, hal :40

[2] Ushulul Kafi, oleh Al Kulaini di kitab tauhid : 1/133

 

Apa Akidah Rafidhah Dalam Masalah Sifat?

Adalah Rafidhah orang yang pertama kali mengatakan tajsiim (bersifat seperti tubuh manusia).  Sungguh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menentukan bahwa sesungguhnya orang yang melakukan kedustaan ini dari kalangan kaum Rafidhah adalah Hisyam ibnul Hakam[1], dan Hisyam bin Salim Al Jawaliqi, Yunus bin Abdurrahman Al Qummi, dan Abu Ja’far Al Ahwal[2].

Seluruh orang yang disebutkan tadi termasuk syaikh-syaikh besar golongan Itsna Asyriyah (Rafidhah), kemudian mereka menjadi pemeluk paham Jahmiyah mu’athilah, sebagaimana sekumpulan riwayat mereka mensifati Rabb semesta alam dengan sifat-sifat negetif yang mereka masukkan sebagai sifat yang tetap bagi Allah. Dan sungguh Ibnu Babawaih meriwayatkan lebih dari tujuh puluh riwayat yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala, tidak disifati dengan zaman, tidak dengan tempat, tidak dengan bagaimananya, tidak dengan gerak, tidak dengan berpindah, tidak dengan sesuatupun dari sifat-sifat tubuh, Dia bukan yang bisa diraba, bukan bertubuh dan berbentuk.”[3] Maka syaikh-syaikh mereka mengikuti jalan (metode) yang sesat ini dengan menta’til (menghilangkan) sifat-sifat yang tercantum dalam AlQuran dan sunnah.

Sebagaimana mereka mengingkari turunnya Allah yang Maha Agung. Mereka mengatakan Al Quran makhluk, mereka mengingkari ru’yah (melihat kepada Allah) pada hari akhirat. Tercantum dalam kitab “Biharul Anwar”, bahwasanya Abu Abdillah Ja’far As Shodiq ditanya tentang Allah ta’ala, apakah bisa dilihat pada hari akhirat? Beliau berkata : “Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari hal itu dengan ketinggian yang besar, sesungguhnya pandangan tidak akan bisa mencapai kecuali hal-hal yang mempunyai warna dan bentuk, dan Allah yang menciptakan warna-warni dan bentuk”.

Bahkan mereka mengatakan : “Jika seandainya dinisbatkan kepada Allah sebagian sifat seperti ru’yah, maka dihukum sebagai murtad, sebagaimana yang didapatkan dari syaikh mereka  Ja’far Al Najfi di kitab “Kasyful Ghitho’” hal : 417. Perlu diketahui bahwasanya melihat kepada Allah pada hari akhirat adalah benar adanya dan sudah konsisten dalam Kitab dan Sunnah tanpa meliputi seluruhnya dan tanpa bagaimananya, sebagaimana firman Allah :

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ – إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ .

“Wajah-wajah pada saat itu berseri-seri, kepada Rabbnya melihat” (Al Qiyamah : 22,23).

Dan dari sunnah apa yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Jarir bin Abdillah Al Bajali, berkata:

“Adalah kami duduk-duduk bersama Rasulullah, lalu beliau melihat kepada purnama, pada malam empat belas, lalu bersabda : “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata telanjang, sebagaimana kalian melihat ini (purnama), dimana kalian tidak berdesakan melihatnya”[4]. Dan ayat-ayat serta hadits-hadits dalam masalah itu banyak sekali, yang tidak memungkinkan kita untuk menyebutkannya.[5]


[1] Minhaaj sunnah (1/20) oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah

[2] ‘Itiqadaat Firaqul Muslimin Wal Musyrikin, hal : 97

[3] At Tauhid, oleh Abu Babawaih, hal : 57

[4] Bukhari no : 544, dan Muslim no : 633

[5] Lihat karangan-karangan Ahli Sunnah Wal Jamaah dalam menetapkan ru’yah, seperti kitab Ar Ru’yah oleh Daruqutni, dan kitab imam Al Lalikai dan lainnya

 

Keyakinan Rafidhah (Syiah) Terhadap Al Quran-ul Karim

Apa Keyakinan Rafidhah (Syiah) Terhadap Al Quran-ul Karim Yang Ada Di Tengah-Tengah Kita Sekarang, Padahal Allah Telah Berjanji Untuk Menjaganya?

Sesungguhnya Rafidhah yang dinamakan pada zaman kita sekarang ini dengan syiah, mengatakan sesungguhnya Al Quran yang ada pada kita, bukanlah Al Quran yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad, akan tetapi telah dirubah, ditukar, ditambah dan dikurangi. Jumhur ahli hadits dari kalangan syi’ah meyakini adanya pelencengan (perubahan) dalam Al Quran seperti yang disebutkan oleh An Nuuri Al Tibrisi dalam kitabnya “Fashlul Khithab Fi Tahrifil Kitabi Rabbil Arbab“.[1]

Dan Muhammad bin Ya’qub Al Kulaini berkata di “Ushulul Kafi” di bawah Bab bahasan : “Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengumpulkan Al Quran seluruhnya, kecuali para iman” dari Jabir ia berkata : saya telah mendengar Abu Ja’far berkata : “Tidaklah seseorang dari manusia mendakwakan bahwasanya dia telah mengumpulkan Al Quran secara keseluruhannya sebagaimana Allah telah menurunkannya, kecuali ia itu adalah orang pendusta. Tidak ada yang mampu mengumpulkannya dan menghafalnya seperti yang telah diturunkan Allah kecuali Ali bin Abi Talib dan para imam setelah mereka”.

Dan Ahmad Al Tibrisi dalam kitab “Al Ihtijaaj” dan Al Mulla Hasan dalam tafsirnya “As Shaafi” sesungguhnya Umar telah berkata kepada Zaid bin Tsabit : Sesungguhnya Ali telah datang kepada kita dengan membawa Al Quran, yang di dalamnya tercantum aib-aib orang muhajirin dan anshor.

Dan sungguh kami telah memandang untuk mengumpulkan Al Quran dan menghilangkan setiap apa-apa yang di dalamnya terdapat aib-aib muhajirin dan anshor. Dan Zaid pun telah memenuhinya untuk itu, kemudian berkata : “Jika saya telah selesai dari (mengumpulkan) Al Quran sesuai yang anda minta, lalu jelas bagi saya Al Quran yang dikumpulkannya (Ali), bukankah itu menghancurkan setiap apa yang telah anda kerjakan?

Maka berkata Umar : “Jadi bagaimana jalan keluarnya? Berkata Zaid : Anda lebih tahu dengan jalan keluarnya”, berkata Umar : Tiada jalan keluar kecuai kita harus membunuhnya agar kita lega darinya. Lalu ia pun merancang pembunuhannya (Ali) lewat tangan Khalid bin Walid, akan tetapi dia tidak mampu melakukannya[2].

Tatkala Umar menjadi khalifah, mereka (para sahabat) meminta Ali untuk mendatangkan Al Quran kepada mereka, agar mereka sama mereka merubahnya. Lantas Umar berkata : Wahai Abul Hasan, alangkah baiknya kalau seandainya kamu membawa Al Quran yang pernah kamu bawa ke hadapan Abu Bakar, agar kita bersatu atasnya. Lalu Ali berkata : Tidak mungkin, dan tidak mungkin ada jalan untuk itu, sebenarnya saya membawanya ke hadapan Abu Bakar hanyalah untuk menegakkan hujjah atasnya, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat

إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

Sesungguhnya kami akan hal ini dalam keadaan lengah” (Al A’raf :172),

atau agar kalian tidak mengatakan;

“Kamu tidak pernah mendatangkannya kepada kami” (Al A’raf ).

Sesungguhnya Al Quran ini tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci, dan orang-orang yang diwasiatkan dari kalangan anakku. Lalu berkata Umar : “Apakah ada waktu untuk menampakkannya diketahui ? Lantas Ali berkata : “Ya, jika telah bangkit seseorang dari anakku, ia akan menampakkannya dan membawa manusia atasnya[3].

Walau bagaimanapun orang syiah menampakkan sikap berlepas dirinya terhadap buku An Nuri al Tibrisi ini, demi mengamalkan akidah Taqiyah, akan tetapi kitab itu terselubung dan tersimpan dalam ratusan nas-nas (pernyataan-pernyataan) dari ulama mereka dalam kitab-kitab yang diakui, menetapkan hal itu, dan bahwasanya mereka betul-betul yakin dengan perubahan itu, dan beriman dengannya, akan tetapi mereka tidak ingin timbul kehebohan sekitar akidah mereka ini terhadap alquran.

Dan tinggal setelah itu, bahwa ada dua Al Quran, yang pertama yang diketahui, dan yang lain khusus, tersembunyi. Diantaranya surat Wilayah, dan diantara yang didakwakan oleh syi’ah Rafidhah, bahwa ada satu ayat telah dihapus dari Al Quran yaitu :

“Dan kami telah menjadikan Ali sebagai menantumu”, Mereka mendakwakan ayat ini dihapus dari surat Alam Nasyrah, sementara mereka tidak pernah malu dangan dakwaan mereka ini, karena mereka mengetahui bahwa surat itu adalah makkiyah, dan Ali belum menjadi menantu Nabi saat di Mekah.


[1] Fashlul Khithab, oleh Hasan bin Muhammad Taqiyun Nuri Al Tibrisi, hal : 32

[2] Lihatlah saudara seiman, alangkah kejinya kisah yang dibuat-buat oleh kaum syiah terhadap para sahabat

[3] Al Ihtijaaj oleh Al Tibrisi hal :225, kitab Fashlul Khithab, hal : 7

 

Akidah Rafidhah Terhadap Para Sahabat Rasulullah

Bagaimana Akidah Rafidhah Terhadap Para Sahabat Rasulullah?

Akidah Rafidhah berdiri atas caci maki, mencela dan mengkafirkan para sahabat -semoga Allah meridhoi para sahabat-. Al Kulaini menyebutkan di “Furu’ Al Kafi” dari Ja’far ‘alaihi salam : “Manusia menjadi murtad setelah Nabi (meninggal) kecuali tiga orang, lalu aku bertanya : siapa tiga orang itu ? beliau berkata : Al miqdaad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifari dan Salman Al Farisi[1].

Al Majlisi dalam kitab “Haqqul Yakin” menyebutkan : “Bahwasanya seorang budak Ali bin Husein berkata kepadanya : saya mempunyai hak pelayanan yang wajib atas dirimu, maka beritahu aku tentang Abu Bakar dan Umar, lalu ia menjawab : “Mereka berdua adalah orang kafir, dan orang yang mencintai mereka maka ia orang kafir juga.”[2]

Dalam tafsir Al Qummi pada firman Allah (An Nahl : 90)  :

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (an nahl: 90)

Mereka mengatakan : al fahsyaa’ (keji) adalah Abu Bakr, al-munkar adalah Umar dan baghyi (kezoliman) adalah Utsman[3].

Mereka mengatakan dalam buku mereka “Miftahul Jinaan” : Ya Allah anugerahkanlah salawat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad dan laknatlah dua berhala kaum Quraisy dan dua yang mereka sembah selain Allah[4]. dan dua thoghut serta anak perempuan mereka berdua….dan seterusnya[5]. Dan yang mereka maksudkan dengan itu adalah Abu Bakar, Umar, Aisyah dan Hafshah.

Pada hari asyura (hari ke sepuluh bulan Muharram), mereka membawa seekor anjing lalu mereka namakan dengan umar, kemudian mereka menghujani dengan pukulan pakai tongkat, serta melontarnya dengan batu sampai mati, kemudian mereka menghadirkan seekor anak kambing, mereka beri nama dengan Aisyah, kemudian mereka mulai mencabut bulunya, dan menghujani dengan pukulan pakai sandal, sampai mati[6].

Sebagaimana mereka merayakan hari terbunuhnya Faruq Umar bin Khatab dan mereka memberi nama pembunuh umar yaitu abu Lu’lu’ al Majusi dengan nama Baba Syujaa’uddin (bapak) pemberani agama (pahlawan agama)[7], semoga Allah meridhoi seluruh sahabat dan para ummul mukminin.

Lihatlah wahai saudaraku muslim, alangkah dengkinya dan alangkah kejinya golongan yang keluar dari agama ini, tentang apa yang telah mereka katakan terhadap manusia pilihan setelah para nabi, yang mana Allah dan rasul-Nya telah memuji mereka. Dan telah sepakat umat ini atas keadilan (kelurusan dan keterpercayaan) dan keutamaan mereka. Sejarah dan kenyataan pun telah membuktikan dan menyaksikan serta perkara-perkara ini sudah merupakan pengetahuan yang wajib diketahui (oleh setiap umat) atas kebaikan, dan posisi mereka selalu di depan serta jihad mereka dalam Islam.


[1] Furuu’ Al Kafi, oleh Al Kulaini, hal : 115

[2] Haqqul Yakiin, oleh Al Majlisi, hal : 522. Di sini perlu di isyaratkan bahwa sesungguhnya Ali bin Hasein dan Ahlu Bait semuanya berlepas diri dari semua ini yaitu kedustaan yang diada-adakan oleh kaum Rafidah atas diri mereka, semoga Allah memerangi kaum rafidhah, alangkah jeleknya kedustaan yang mereka buat. (Insya Allah penterjemah akan membuat satu edisi yang berisikan sikap Ahlul Bait terhadap para sahabat, yang akan diambil dari buku-buku pegangan mereka sendiri, agar pembaca mengetahui sebenarnya mereka telah menyelisihi ahlul Bait sendiri dalam bersikap terhadap para sahabat Rasul.)

[3] Tafsir Al Qummi, hal : 218

[4] Ketahuilah pembaca budiman : Mereka sendiri telah menjadikan kuburan Kumaini sebagai tempat yang suci, dan mendirikan di atasnya bangunan seperti Ka’bah sebagai tandingan Ka’bah kita yang mulia

[5] Miftahul Jinaan, hal : 114. Lihat doa dua berhala Quraisy, insya Allah di edisi ke 15

[6] Tabdiidul Zhilaam wa tanbiihun Niyam, oleh Ibrahim Al Jabhaan, hal : 27

[7] Abbas Al Qummi, (Alkuna wal Alqaab) 2/55

 

Kesamaan Antara Yahudi dengan Rafidhah

Apa Segi Kesamaan Antara Yahudi dengan Rafidhah?

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata : ”Bukti dari, sesungguhnya bencana Rafidhah adalah bencana Yahudi, hal  itu terlihat pada :

v     Sesungguhnya orang  Yahudi mengatakan : Tidak boleh yang menjadi raja kecuali dari keluarga nabi Daud, Rafidhah berkata : Tidak boleh menjadi imam kecuali dari anak Ali.

v     Yahudi mengatakan : Tidak ada jihad di jalan Allah sampai keluar Masehid Dajjal dan diturunkan pedang. Orang Rafidhah mengatakan : Tidak ada jihad di jalan Allah sampai keluar Al Mahdi, dan datangnya penyeru yang menyeru dari langit.

v     Orang Yahudi mengakhirkan (mengundurkan) shalat sampai bintang bertebaran, begitu juga orang Rafidhah mereka mengundurkan shalat maghrib sampai bintang-bintang bertebaran, padahal hadits mengatakan : “Senantiasa umatku di atas  fitrah, selama mereka tidak mengakhirkan shalat maghrib sampai bintang bertebaran[1].

v     Orang Yahudi telah merubah taurat, begitu juga orang Rafidhah, mereka telah merubah Al Quran.

v     Orang Yahudi tidak memandang bolehnya mengusap khuf (sepatu kulit yang menutupi mata kaki), begitu juga orang Rafidhah.

v     Orang Yahudi membenci malaikat Jibril, mereka mengatakan : Malaikat Jibril adalah musuh kita dari kalangan malaikat. Begitu juga orang Rafidhah, mereka mengatakan : Malaikat Jibril telah salah menyampaikan wahyu kepada Muhammad[2].

v     Begitu juga orang Rafidhah meyerupai orang kristen pada satu ajaran nasrani yaitu, wanita-wanita mereka tidak memiliki hak  mendapatkan mahar, akan tetapi hanya bersenang-senang dengan mereka dengan kesenangan, begitu juga orang Rafidhah, mereka menikah dengan cara mut’ah, dan mereka menghalalkan itu.

v     Orang yahudi dan kristen lebih utama dari orang Rafidhah dengan satu sifat  (yaitu) :

v     Orang yahudi jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab : adalah sahabat-sahabat Musa.

v     Orang Kristen jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab : adalah Hawari (sahabat-sahabat) Isa.

v     Orang rafidhah jika ditanya : siapakah orang yang terburuk di kalangan pemeluk agamamu? Mereka menjawab : adalah sahabat-sahabat Muhammad.”[3]


[1] Hadits diriwayatkan oleh : Imam Ahmad : 4/147. 5/417, 422, Abu Daud, no : 418, dan Abnu Majah, no : 689, di dalam jawaid dikatakan : sanadnya hasan (baik).

[2] Ada juga suatu kelompok yang mengatakan yang aneh-aneh, mereka mengatakan : sesungguhnya Jibril telah berkhianat, dimana ia menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad, sedangkan yang lebih utama dan lebih berhak terhadap risalah adalah Ali bin Abi Thalib, oleh karena inilah mereka mengatakan : telah berkhianat Amiin (malaikan jibril) dan ia telah menghalang risalah sampai ke Haidari (Ali).

Wahai saudaraku muslim, bagaimana mungkin mereka menuduh Jibril Alaihi salam telah berkhianat, sedangkan Allah telah menyifatinya dengan amanah (terpercaya), sebagaimana Allah telah berfirman : Telah dibawa oleh Ruhul Amiin (malaikat Jibril), dan firman-Nya : selalu taat kemudian terpercaya”. Apakah yang akan anda katakan wahai muslim terhadap keyakinan yang diimani oleh orang-orang rafidhah ini?

[3] Minhaajus Sunnah, oleh syeikhul Islam Ibnu Taimiyah : 1/24

 

Akidah Orang Rafidhah Terhadap Para Imam Mereka

Apa Akidah Orang Rafidhah Terhadap Para Imam Mereka?

Rafidhah mendakwakan kema’suman (terjaga dari dosa) bagi para imam, dan bahwasanya mereka mengetahui hal ghaib. Dinukil oleh Al Kulaini dalam Usulul Kafi : “Telah berkata Imam Ja’far as Shodiq : “Kami adalah perbendaharaan ilmu Allah, kami adalah penterjemah perintah Allah, kami adalah kaum yang maksum, telah diperintahkan untuk menta’ati kami, dan dilarang untuk menentang kami, kami adalah hujjah Allah yang kuat terhadap siapa yang berada di bawah  langit dan di atas bumi”[1].

Al Kulaini meriwayatkan di Al Kafi : Bab “Sesungguhnya para imam, jika mereka berkehendak untuk mengetahui, maka mereka pasti mengetahuinya”. Dari Jafar ia berkata : “Sesungguhnya Imam jika ia berkehendak mengetahui, maka ia pasti mengetahui, dan sesungguhnya para imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan sesungguhnya mereka tidak akan mati kecuali dengan pilihan mereka sendiri.”[2]

Khumaini yang celaka menyebutkan – dalam salah satu tulisannya bahwa para imam lebih afdhal (mulia) dari para nabi dan rasul, ia berkata  -semoga Allah menghinakannya- : “Sesungguhnya imam-imam kita mempunyai suatu kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat yang didekatkan, dan tidak pula oleh nabi yang diutus”[3].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Orang Rafidhah mendakwakan sesungguhnya agama ini diserahkan kepada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, maka yang halal itu adalah yang dihalalkan mereka, dan yang haram itu adalah yang diharamkan mereka, serta agama itu adalah apa yang mereka syariatkan”.[4]

Jika pembaca ingin melihat kekufuran, kesyirikan dan ghuluw (sikap berlebih-lebihan mereka) -semoga Allah melindungi kita- maka bacalah syair-syair yang diungkapkan oleh syaikh mereka zaman sekarang ini yaitu Ibrahim Al Amili, terhadap Ali bin Abi Thalib -semoga Allah meridhai Ali- :

Abu hasan, engkaulah hakikat Tuhan (yang diibadati),

dan alamat kekuasaan-Nya yang tinggi.

Engkaulah yang menguasai ilmu ghaib,

maka mungkinkah tersembunyi bagimu akan sesuatu yang hasul.

Engkaulah yang mengendalikan poros alam,

bagimu para ulamanya  yang tinggi.

Bagimu amar (urusan) bila engkau menghendaki, kau menghidupkan besok,

bila engkau menghendaki kau cabut ubun-ubun.

Ali bin Sulaiman Al Mazidi mengutarakan syairnya dalam memuji Ali bin Abi Thalib :

Abu Hasan engkaulah suami orang yang suci,

Dan (engkaulah) sisi tuhan yang diibadati serta jiwa rasul.

Dan (engkaulah) purnama kesempuranaan dan matahari akal,

(engkau) Hamba dari tuhan, dan engkaulah yang Maha Raja.

Engkau dipanggil oleh nabi khaidir dihari…,

Dan telah menaskan atas dirimu sesuai dengan kejadian Ghadir

Bahwasanya engkau bagi kaum mukminin adalah amir (pemimpin),

dia telah mengkalungkan kepadamu buhul kekuasaannya.

Kepadamulah kembalinya seluruh perkara,

dan engkaulah yang maha mengetahui dengan kandungan dada.

Engkaulah yang akan membangkitkan apa yang ada dalam kubur

Bagimulah pengadilan hari kiamat berdasarkan kepada nas.

Engkaulah yang maha mendengar dan engkaulah yang maha melihat

Engkau atas setiap sesuatu maha mampu.

Kalaulah tidak karena engkau, pasti bintang tidak berjalan

Kalaulah tidak karena engkau, pasti planet tidak berputar.

Engkaulah, dengan setiap  makhluk mengetahui,

Engkaulah yang berbicara dengan ahli kitab.

Kalaulah tidak karena engkau, tidak mungkin musa

akan diajak berbicara, Maha suci Dzat yang telah menciptakanmu

Engkau akan melihat rahasia namamu di jagat raya,

Kecintaan terhadap dirimu seperti matahari di atas kening.

Kebencian terhadap dirimu di wajah orang yang membenci,

Bagaikan peniup api, maka tidak akan beruntung yang membencimu.

Siapa itu yang telah ada, dan siapa itu yang ada,

Tidak  para nabi dan tidak (pula) para rasul,

Tidak (pula) qalam lauh dan tidak (pula) alam semesta,

(kecuali) Seluruhnya adalah hamba-hamba bagimu.

Wahai Abu Hasan wahai yang mengatur wujud,

(wahai) goa orang yang terusir, dan tempat berlindung pendatang.

yang memberi minum pengagungmu pada hari berkumpul (hari kiamat).

orang yang mengingkari hari berbangkit, adalah orang yang mengingkarimu.

Wahai Abu Hasan wahai Ali yang gagah.

Kesetiaan padamu bagiku di dalam kuburku sebagai tanda penunjuk,

Namamu bagiku dalam keadaan sempit merupakan lambang

Dan kecintaan kepadamu adalah yang memasukkanku kedalam surgamu

Dengan lantaran dirimu kemulian yang ada pada diriku.

Bila datang perintah Tuhan yang Maha Mulia

Menyeru penyeru, berangkat-berangkat (kematian-kematian).

Dan tidaklah mungkin engkau akan meninggalkan orang yang berlindung denganmu.

Apakah syi’ir seperti ini diucapkan oleh seorang muslim yang memeluk agama Islam?, Demi Allah, bahkan sesungguhnya orang-orang jahiliyah (Kafir) sekalipun belum pernah jatuh dalam kesyirikan dan kekufuran, terlalu memuja-muji / ghuluw seperti yang diperbuat oleh orang rafidhah celaka ini.[5]


[1] Usulul Kafi, hal : 165. (mari kita simak apa firman Allah yang menerangkan tentang sifat nabi Muhammad, Allah berfirman dalam surat Al An’am ayat 50 :

قُل لاَّ أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَآئِنُ اللّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوحَى إِلَيَّ

(artinya) : “Katakanlah : “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengatakan yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku….”(pent)

[2] Usulul Kafi, di dalam kitabul Hujjah : (1/258). (mengetahui mati dan di mana akan mati itu adalah rahasia yang tidak diketahui kecuali hanya Allah semata, Allah berfirman  dalam surat Lukman ayat 34,

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

(artinya) : “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yagn dapat mengetahui(dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahi lagi Maha Mengenal.” (pent)

[3] Hukumatul Islamiyah, Khumaini,(berarti para imam mereka lebih mulia dari Rasulullah sendiri, apakah perkataan seperti ini boleh keluar dari mulut seorang muslim yang memeluk agama Islam???. pent)

[4] Minhajus Sunnah, oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah  (1/482).

[5] Penterjemah melihat sendiri bagaimana cara mereka membaca syair-syair di kuburan baqi’ (madinah), dibacakan dan dinyanyi-nyanyikan oleh ketua regunya,  yang lain menangis dan merapat seperti orang Yahudi meratap di depan dinding mesjid Aqsha

 

Akidah Raj’ah Yang Diimani Oleh Orang Rafidhah

Apa Akidah Raj’ah Yang Diimani Oleh Orang Rafidhah?

Orang Rafidhah telah membuat bidah Raj’ah, berkata Al Mufid : “Telah sepakat mazhab Imamiyah atas wajibnya terjadi Raj’ah di kebanyakan dari para orang yang telah mati”[1]. Yaitu (yang mereka maksudkan dengan Raj’ah ini) bangkitnya penutup imam-imam mereka, yang bernama Al Qaaim pada akhir zaman, ia keluar dari bangunan di bawah tanah, lalu menyembelih seluruh musuh-musuh politiknya, dan mengembalikan kepada syiah hak-hak mereka yang dirampas oleh kelompok-kelompok lain sepanjang masa (yang telah berlalu)[2].

Berkata sayid Al Murtadho di dalam kitabnya “Al Masail An Nashiriyah” : “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar disalib pada saat itu di atas suatu pohon di zaman Al Mahdi -yakni imam mereka yang kedua belas- yang mereka beri nama Qaaim Ali Muhammad (penegak keluarga Muhammad), dan pohon itu pertamanya basah sebelum penyaliban, lalu menjadi kering setelahnya[3].

Berkata Al Majlisi di dalam Kitab “Haqul Yakin” dari Muhammad Al Baqir (berkata) : “Jika Al Mahdi telah keluar, maka sesungguhnya ia akan menghidupkan ‘Aisyah Ummul Mukminin dan ia melaksanakan (menjatuhkan) hukum had (hudud) atas diri Aisyah”.[4]

Kemudian bagi mereka pemahaman Raj’ah ini berkembang, dan mengatakan (berlakunya) Raj’ah (kembali hidup) seluruh orang syiah dan imam-imam mereka dan seluruh musuh mereka bersama imam-imam mereka. Akidah khurafat ini mengungkapkan rasa dengki yang tersembunyi di dalam diri mereka, yang mereka ungkapkan rasa dengki itu dengan cerita dongeng seperti ini. Dan adalah keyakinan ini merupakan sarana (jembatan) yang diambil oleh orang-orang Sabaiyah untuk mengingkari hari akhirat.


[1] Awaailul Maqaalaat, oleh Al Mufiid, Hal : 51

[2] Al Khuthuthul ‘Ariidhah, oleh Muhibbudin Al Khatiib, hal : 80

[3] Awaailul Maqaalaat, oleh syeikh mereka yang bergelar Al Mufiid, Hal : 95.

[4] Haqul Yakiin, oleh Muhammad Al Baqir Al Majlisi, hal : 347.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s