PEMBELAJAR SEJATI


Dan tidak ada batas dari proses belajar, seorang pembelajar sejati, memahami benar, bahwa belajar itu tidak ada ujung seperti air yang mengalir, karena memang ilmu itu tidak berbatas seperti laut yang tidak akan pernah kering. Siapapun, kapan, dan dimana saja .

Tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang tidak melalui proses belajar. Ingatkah kita, mengapa kita sampai bisa berbicara lancar? bahkan dengan bahasa yang berbeda, misalnya Bahasa Minang bagi orang Minang, jawa, inggris, arab, atau kita bisa berjalan normal? makan dengan normal, tidur dengan normal?.

Pasti berabe jika kita tidak pernah diajari ngomong, pasti celaka jika kita tidak diajari berjalan, makan dan bahkan tidur dengan normal? Bisa kita bayangkan apa jadinya kita kalau kita berjalan seperti kambing, atau kita makan seperti ayam, atau kita tidur seperti kelelawar? Hmm … pasti capek banget. Belajar tentang bahasa ini juga disinggung Allah dalam Alqur’an:

“Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “bukankah sudah Kukatakan padamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.” (Al baqarah: 31-33)

Jangankan manusia, binatang pun belajar bagaimana menggunakan bahasa “sukunya” masing-masing. Kucing akan berbicara dengan bahasa kucing, dan ayam akan berbicara dengan bahasa ayam. Pernah denger ada binatang yang berbicara dengan bahasa berbeda antar suku? Misalnya ayam berbahasa kucing dan sebaliknya?

Dan binatang pun belajar bagaimana menjalani hidupnya, contoh kecil yang ada di sekitar kita, pernah melihat kucing bermain bersama induknya? Disaat kucing beranjak dewasa, dia akan diajari oleh induknya bagaimana mempertahankan diri dari serangan musuh, mulai dari cara mencakar, mengeong, berlari dan melompat dengan gesit.

Dan tidak ada batas dari proses belajar, seorang pembelajar sejati, memahami benar, bahwa belajar itu tidak ada ujung seperti air yang mengalir, karena memang ilmu itu tidak berbatas seperti laut yang tidak akan pernah kering. Siapapun, kapan, dan dimana saja.

Sekolah dan institusi boleh saja membatasi dengan spesialisasi ilmu dan birokrasi nilai, seperti yang ada di sekolah-sekolah formal. Akan tetapi itu tidak akan “ngaruh” untuk seorang pembelajar. Hal ini sudah banyak ana temui di lapangan, betapa banyak teman ana dengan spesialisasi ilmu pada pendidikan formal, juga menguasai ilmu lain, bahkan dia lebih menguasai ilmu yang bukan spesialisasi bidangnya. Ada yang lebih dikenal “ustadznya”, dibanding sarjana pertanian, atau tekniknya, ada yang dia lebih dikenal sebagai penulis dibandingkan keilmuannya di kimia.

Seorang pembelajar sejati berarti juga memahami, betapa waktu dan umur tidak akan pernah membatasinya untuk belajar. Seperti halnya jawaban Imam Hambali yang ditanya sampai kapan engkau akan menuntut ilmu? Dan beliau menjawab “beserta tinta akan ke liang kubur”. Seperti juga dikatakan rasullullah, “Uthlubul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi”, tuntututlah ilmu itu dari ayunan hingga ke liang lahat.

Seorang pembelajar sejati memahami bahwa sepanjang hidupnya adalah laboratorium. Ketika bertemu dengan kegagalan dia yakin bahwa Allah mengirimkannya agar kesuksesan yang nanti diraihnya terasa lebih manis. Ketika kehilangan menjumpainya maka iapun yakin bahwa Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik. Ketika ia bekerja, maka sesungguhnya ia sedang belajar. Ketika ia ditimpa musibah, atau diberi kebahagiaan, maka pada hakekatnya ia sedang belajar.

Dan guru adalah seseorang atau sesuatu yang membantu mengajari kita dengan tepat dan benar. Mengapa tidak hanya seseorang? Tetapi juga sesuatu? Karena memang yang mengajarkan kita tidak hanya orang, tetapi juga alam, lingkungan dan kehidupan itu sendiri. Dan disini tidak ada batas lagi antara guru dan murid, siapa guru dan siapa murid, tetapi menyangkut apa hikmah sesuatu yang dipelajari itu. Seperti kucing yang mengajarkan persaudaraan, atau ayam yang lebih dahulu bangun di pagi hari. Dan itu memerlukan kejernihan hati untuk dapat mengambil cahaya ilmu itu.

Mari hidupkan “tradisi pembelajaran”. Masih banyak yang belum kita ketahui, dari alam, lingkungan, kehidupan dan semua ayat-ayat Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s