MERDEKA ATAU BUDAK NAFSU


Usai perang Uhud Rasulullah SAW bersabda, “Kalian baru menyelesaikan perang kecil.” Mendengar Sabda Rasul para sahabat kaget dan langsung bertanya: “Perang seperti ini engkau anggap masih kecil, lalu ada perang besar macam apalagi yang akan terjadi ya Rasulullah?” Jawabnya: “Yaitu perang melawan hawa nafsu kalian sendiri, musuh kalian tidak tampak dan musuh kalian menerapkan berbagai jebakan atau strategi yang selalu berbeda untuk mengalahkanmu setiap detiknya.”

Nafsu adalah musuh yang datang dari dalam diri dan tidak tampak wujudnya. Ranjau-ranjaunya sangat halus, lembut, dan setiap saat selalu berubah strateginya. Nafsu selalu memanfaatkan kecintaan yang ada pada manusia seperti, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14)

Ragam Nafsu

Nafsu pada diri manusia beragam. Ada nafsu baik (takwa), ada pula yang buruk (fujur). “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Asy Syams: 7- 8)

Nafsu yang fujur adalah nafsu ammaroh, lawwamah dan sawwalat. Sedang nafsu yang baik adalah nafsu sawwiyah, muthmainah, radhiyah, dan mardhiyah. Seperti apa kongkretnya?

Nafsu ammaroh mencakup sifat-sifat athimah (banyak makan), asyrabah (banyak minum), naawaa-im (banyak tidur) dan jimaa (senggama yang berlebihan).

Nafsu lawwamah meliputi sifat-sifat ghadab, ghibah, namimah, hasud, ujub, takabur, riya, cinta dunia, harta dan tahta. Nafsu lawwamah disebut juga nafsu setan yang selalu mengajak berbuat keji.

Nafsu sawwalat meliputi sifat–sifat kasal, futur, malal, sumah dan hijab. Nafsu sawwalat identik dengan sifat Iblis. Sebab nafsu jenis ini selalu mengguncang akidah orang yang sedang meniti syariat Islam.

Tiga nafsu tersebut adalah fujur alias buruk. Yakni: jiwa yang diilhami kekejian. Sifat-sifatnya disebut madzmumah (sifat yang tercela).

Sedang nafsu yang menghiasi tujuh anggota sujud manusia dengan akhlak mahmudah (yang terpuji) adalah nafsu sawiyyah dan nafsu muthmainnah.

Nafsu sawwiyah terdiri atas sifat khauf, taqwa, raja’, zuhud, tawadhu, shabar, syukur, mahabbah, ridha, tawakal dan ikhlas.

Nafsu muthmainnah berbusana arif billah, arif linafsih, dan berdiam pada mahligai khalifah fiil ardh.

Ada pun nafsu radhiyah dan mardhiyah disebut juga nafsu lathifatur rabaniyah: nafsu ketuhanan yang amat halus dan lembut, meliputi ruh insan kamil (manusia yang sempurna).

Nafsu Madzmumah (Buruk)

Tujuh nafsu itulah yang mendominasi gerak langkah manusia. Hal itu tercermin pada watak atau tabiatnya. Apabila salah satu nafsu sedang melancarkan aksinya maka watak manusia akan mencerminkan sifat nafsu tersebut.

Misalnya, ketika jiwa manusia dikuasai nafsu ammaroh, maka gerak hidupnya seperti binatang. Ia selalu cenderung berbuat maksiat. Baik maksiat lahir maupun batin.

Dengan kata lain bahwa orang yang telah dikuasai nafsu ammaroh akan bersifat seperti bahimiyyah atau sabu’iyyah (binatang ternak atau binatang buas). Maksudnya, sikap dan cara laku memenuhi kebutuhan hidupnya seperti binatang yang tidak mengenal halal atau haram. “Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al A’raaf: 179)

Pada ayat lain Allah menjelaskan tentang nafsu ammaroh seperti yang tertera di surat Yusuf ayat 53 menerangkan: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahanku), karena sesungguhnya nafsu (ammaroh) itu selalu menyuruh kepada kejahatan.”

Jika jiwa seseorang dikuasai nafsu lawwamah, maka watak dan kepribadiannya akan terhiasi kefasikan dan penyesalan. Ia akan sering melakukan perbuatan nista, kemudian disusul dengan taubat dan penyesalan. Tetapi hal itu terus berulang seolah tidak pernah jera. “Dan Aku bersumpah dengan jiwa (nafsu) yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (Al Qiyamah: 2).

Apabila seseorang sedang dikuasai nafsu sawwalat maka ia akan merasa malas, jenuh dan bosan dalam menjalankan syariat Islam. Langkah ibadah orang tersebut ahmak (rusak), karena perbuatan buruk dipandang baik dan perbuatan baik dipandang buruk menurut persepsinya. “Ya’kub berkata: Hanya dirimu sendirilah yang menganggap baik perbuatan (buruk) itu”. (Yusuf: 83).

Nafsu ammaroh, lawwamah dan sawwalat sebagaimana telah diurai di atas, termasuk golongan nafsu yang batil. Maka itu: “Matikanlah dirimu (nafsumu) sebelum datang kematian (ajal) kepadamu.” (Hadits)

Nafsu Mahmudah (Baik)

Sedang nafsu sawwiyah disebut juga nafsu Malaikat, merupakan generator perbuatan yang terpuji. Kepada nafsu sawwiyah, Allah mengilhamkan ketakwaan dan kebersihan yang senantiasa menyelimutinya. “Dan jiwa (nafsu) serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan.” (Asy Syams, 7-8)

Adapun nafsu muthmainah adalah jiwa yang tenang. Nafsu inilah hakikat manusia dan hamba Allah. Hanya nafsu muthmainah yang dipanggil oleh Allah dan berhak menjadi hamba Allah serta mendapat prioritas untuk memasuki jannah-Nya. “Hai jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al Fajr, 27-30)

Maka dapatlah dimengerti bahwa gerak dan sifat manusia merupakan cerminan nafsu-nafsu yang menguasainya. Apabila sifat nafsu sedang gairah terhadap suatu yang didengar, dilihat, diraba serta dirasakan, maka akal berfungsi untuk memertimbangkan kehendak nafsu tersebut. Sedang keberadaan hati bertindak memutuskan masalah kehendak nafsu atas dasar pertimbangan akal.

Gerakan tujuh anggota sujud sebagai pelaksanaan kehendak nafsu, apakah tampak baik atau buruk, tergantung pada pertimbangan akal dan kebijakan hati tatkala memutuskannya. Dengan kata lain, baik dan buruk akhlak tujuh anggota sujud seseorang tergantung kepada pertimbangan akal yang diperkuat oleh keputusan hati sebagai rajanya.

“Ketahuilah! Bahwa sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada terdapat segumpal daging. Apabila ia baik niscaya jadi baiklah seluruh (organ) tubuhnya dan apabila ia buruk niscaya jadilah seluruh tubuhnya buruk. Ketahuilah! Bahwa itu adalah hati.” (HR Bukhari Muslim)

Merdeka dari Nafsu

Untuk memerdekakan diri dari perbudakan nafsu, kita harus berperang melawan nafsu dengan cara mengenali sumber dan asal kejadian nafsu, kemudian memahami sifat-sifat yang muncul pada diri kita yang bersumber dari nafsu. Selain dari hal tersebut, kita juga harus istiqomah menjalankan zikir serta ibadah sunah lainnya, tentunya dalam hal ini harus mendapat bimbingan seorang guru atau mursyid.

Contoh melawan nafsu ammaroh, kita harus memerbanyak puasa sunnah atau mengurangi makan. Hal ini untuk mengendalikan gejolak nafsu ammaroh yang bersifat seperti binatang buas yang rakus. Ini baru salah satu contoh melawan nafsu yang menguasai diri kita, masih banyak lagi cara untuk melawan nafsu-nafsu seperti lawwamah dan sawwalat.

Jika nafsu-nafsu yang menguasai diri telah terkendali, baru disebut orang yang telah merdeka dari perbudakan dan penjajahan nafsu-nafsu. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy Syams: 9-10).

Intinya, bahwa orang yang mendapat kemenangan melawan hawa nafsu itu orang yang selalu membersihkan jiwanya dari berbagai macam kotoran batiniah dengan cara mengingat nama-nama Allah dan dilanjutkan hubungan mesra dengan-Nya. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (Al A’laa: 14-15).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s