MENGATASI KECEMASAN


Dialah Allah yang tidak akan tercapai oleh penglihatan mata, tetapi terlihat oleh mata hati yang penuh dengan hakikat keimanan. Dia dekat dari segalanya tanpa sentuhan, jauh tanpa jarak; berbicara tanpa harus berpikir sebelumnya, berkehendak tanpa harus berencana, berbuat tanpa memerlukan tangan; lembut tapi tidak tersembunyi, besar tapi tidak terjamah; melihat tetapi tidak bersifat inderawi; maha penyayang tapi tidak bersifat lunak.

Wajah-wajah merunduk ke hadapan-Nya, bersimbah penuh khusyu’, dan bergetar jiwa menuju cinta-Nya, yakin diri di dalam satu tujuan mengharap ridha-Nya.

Segala puji bagi Allah, penentu segala kejadian yang senantiasa mencurahkan Rahmat dan karunia bagi hamba-hamba yang dicintai-Nya. Semoga perbuatan kita digolongkan menjadi suatu ibadah menuju kepada kecintaan-Nya.
Amiin.

Sahabat, tahukah sesuatu yang paling banyak menyita pikiran, waktu dan tenaga; yang mengurangi akal, merusak ibadah ? Itulah perasaan cemas. Cemas terhadap sesuatu yang belum terjadi, yang berkaitan dengan urusan dunia. Padahal sudah jelas perbuatan cemas – apalagi berlarut-larut – itu tidak akan membuahkan penyelesaian apapun, selain hati semakin sengsara dan bertambah nelangsa. Padahal hidup ini teramat singkat. Kapan kita akan merasakan kebahagiaan apabila dari hari ke hari yang terkumpul adalah kecemasan yang berujung pada kegelisahan dan hilangnya perasaan nikmat yang ada pada kita. Memang, cemas berpangkal pada belum mantapnya keyakinan bahwa segala kejadian yang menimpa mutlak datangnya dari Allah.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman [yang artinya], ‘Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.’ [QS At Taghaabun [64] : 11] .

Dalam ayat lain, Allah menegaskan [yang artinya], ‘Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis pada kitab Lauhul Mahfudz sebelum Kami menciptakannya. ‘Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. [Kami jelaskan yang demikian itu] supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.’ [QS Al Hadiid [57] : 22-23] .

Jelaslah bahwa sesungguhnya setiap kejadian yang kita alami semuanya tidak akan lepas dari ketentuan dan ijin Alloh sehingga tiada kecemasan dan kegelisahan saat sesuatu menimpa kita.

Akan tetapi, kebanyakan hati kita amat sibuk dan pikiran mencemaskan perbuatan-perbuatan makhluk, atau sebaliknya amat mengharapkan datangnya bantuan makhluk. Padahal sudah jelas, tidak ada satu pun yang dapat menimpakan mudharat ataupun mendatangkan manfaat selain dengan ijin Allah.

Seperti yang tersurat dalam firman-Nya [yang artinya], ‘Jika Allah menimpakan suatu kemudlaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya, kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tiada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’ [QS Yunus [10] : 107].

Kemudian, perhatikan sabda Rasulullah saw: ‘Walapun bergabung jin dan manusia hendak memberikan manfaat, maka tidak akan pernah datang kecuali yang ditentukan Allah.’ Jadi, apa perlunya kita memperpanjang pikiran, mencemaskan dan mencurahkan harapan kepada makhluk, sedangkan mereka pun sama sekali tidak dapat menolak kemudharatan yang ditimpakan Allah bagi diri mereka sendiri. Cukuplah kepada Allah kembalinya segala tumpuan hati, harapan dan segala urusan karena Dia-lah penguasa segala-galanya, penentu segala kejadian. Tiada sesuatu pun dapat bergerak tanpa ijin-Nya, apapun jua tiada daya dan upaya tanpa kekuatan daripada-Nya. Barang siapa yakin bahwa Allah-lah yang akan menolong dan menjaminnya dalam setiap permasalahan hidup, niscaya Allah pun benar-benar akan menjaminnya, karena Dia sesuai dengan prasangkaan hamba-Nya.

Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, ‘Aku sesuai dengan dugaan hamba-Ku, dan Aku bersama dengannya ketika ia ingat kepada-Ku. jika ia ingat kepada-Ku di dalam hatinya, maka Aku pun ingat pula kepadanya di dalam hati-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam lingkungan khalayak ramai, niscaya Aku pun ingat kepadanya dalam lingkungan khalayak ramai yang lebih baik. Dan jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku pun mendekat pula kepadanya sehasta.’ [Hadits Qudsi Riwayat Syaikhani dan Turmudzi dari Abu Hurairah r.a].

Nah, itulah kunci kehidupan ini sebenarnya! Semua kejadian telah diketahui dan diatur dengan sempurna oleh Allah serta telah diukur dengan cermat, penuh kebijaksanaan dan kasih sayang, untuk ditimpakan kepada hamba-hamba-Nya. Dan Allah Maha Tahu akan keadaan kita pada masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Dia Maha Tahu akan keinginan dan cita-cita kita. Dia pun Maha Tahu akan tingkat intelektualitas, kekuatan tubuh, keadaan perekonomian, bahkan segala yang ada pada diri kita. Karena, Dia yang menciptakan dan mengurus segala-galanya. Jadi, mutlak setiap yang ditimpakan kepada kita akan sangat sesuai dengan keadaan kita.

Sebagaimana firman-Nya [yang artinya] ‘Allah tidak akan membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala [dari kebaikan] yang diusahakannya dan ia mendapat siksa [dari kejahatan] yang dikerjakannya.’ [QS. Al Baqarah [2] : 286].

Kalau kita rasakan pahit dan amat berat, maka semua itu adalah karena kita belum mampu memahami hikmah dari kejadian tersebut atau karena kita masih beranggapan kalau rencana kita lebih baik dari rencana Allah. Padahal ilmu kita amatlah dangkal, apalagi kita terlampau diselimuti oleh hawa nafsu yang cenderung menipu dan menggelincirkan kita, sedangkan Allah mengetahui segala-galanya. ‘……..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Alloh Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.’ [QS Al Baqarah [2] : 216].

Oleh karena itu, sekiranya datang musibah yang mencemaskan, segeralah kuasai diri dengan sebaik-baiknya. Jangan menyiksa diri dengan pikiran yang diada-adakan atau dipersulit, sehingga semakin menyiksa. Karena, memang begitulah manusia, gemar menganiaya diri dengan menenggelamkan ingatan dan lamunan yang tiada bermanfaat serta merusak diri sendiri. Segeralah kembali kepada Allah. Yakinilah kesempurnaan pertimbangan dan kasih sayang-Nya dan segera bulatkan hati kita bahwa hanya Allah-lah satu-datunya pembela.

Dia-lah pemberi jalan keluar yang paling sempurna. Dia tidak mungkin lalai dan lupa terhadap keadaan kita. Dan Dia tidak akan memungkiri janji-Nya bagi orang-orang yang sungguh- sungguh yakin bahwa pertolongan hanya datang dari-Nya. ‘……..maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah ALLAH menjadi penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung” [QS. Ali Imran [3] : 173].

Setelah hati bulat, maka segera pula bulatkan ikhtiar untuk memburu pertolongan Allah dengan amalan-amalan yang dicintai-Nya. Camkanlah bahwa ridha terhadap takdir itu letaknya di dalam hati, tetapi tubuh harus ikhtiar yang di jalan yang diridhai-Nya.

Allah berfirman [yang artinya], ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mengubah nasibnya sendiri. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya. Dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.’ [QS Ar Ra’d [13] : 11].

Nah, dengan demikian maka setiap untaian kejadian yang menimpa kita akan menjadi sarana yang paling tepat untuk gandrung bermunajat kepada Allah, sehingga membuat kita semakin taqarrub dan tidak pernah bisa lupa kepada-Nya. Dengan kata lain, kita menjadi terus-menerus ingat kepada-Nya. Itulah sebenarnya ketenangan dan kebahagiaan sejati di dunia ini yang Insya Allah akan menjadi bekal kebahagiaan yang kekal di akhirat nanti. ‘[Yaitu] orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingat, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.’ [QS Ar Ra’d [13] : 28-29].

Walhasil, kebahagiaan dunia bukan datang dari dunianya, melainkan dari sikap kita yang benar terhadap segala kejadian. Sekiranya sikap kita sesuai dengan keinginan Allah, apapun yang terjadi maka pasti akan menguntungkan bagi dunia dan akhirat kita. Sebaliknya, bila kita menghadapinya dengan tidak sesuai aturan yang diberikan-Nya, maka dunia ini akan memperbudak dan menyengsarakan kehidupan kita. Ingatlah firman Allah, ‘Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, [yaitu] orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.’ [QS AlBaqarah [2] : 45 – 46]

Semoga semua ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s