IMAN DAN TAKWA


IMAN dan takwa harus dimiliki oleh setiap hamba Allah SWT yang ingin mendapatkan kebahagiaan. Dan, kebahagiaan itu jangan hanya di dunia, tetapi yang paling utama adalah kebahagiaan di akhirat. Sebab itu, orang harus beriman. Iman adalah wujud rasa percaya yang dibenarkan oleh hati dan diucapkan lisan, serta ditunjukkan dalam amal perbuatan. Iman kepada Allah SWT artinya meyakini dan membenarkan adanya Allah SWT, satu-satunya pencipta dan pemelihara alam semesta dengan segala kesempurnaan-Nya. Iman adalah dasar setiap hamba Allah SWT dalam memeluk agama. Dengan keimananlah setiap orang dapat melakukan yang diperintahkan dan dilarang agamanya atau dengan kata lain iman dapat membentuk orang jadi bertakwa.

Dalam surat Al-Baqarah 165 dikatakan orang beriman adalah orang yang amat cinta kepada Allah SWT. Sebagai hamba-Nya yang benar-benar mencintai-Nya maka arus memiliki keimanan. Keimanan juga merupakan pondasi yang menopang setiap tindakan dalam menjalankan aturan Allah SWT. Iman juga tidak hanya sebatas percaya, melainkan keyakinan yang mendorong seorang muslim berbuat amal sholeh.

Orang yang beriman memiliki ciri-ciri antara lain: jika disebut nama Allah SWT maka hatinya akan bergetar; senantiasa tawakal; tertib dalam melaksanakan sholat, dan selalu melaksanakan perintah-Nya. Bila mendapatkan rizki selalu menafkahkannya di jalan Allah; menghindari perkataan yang tidak bermanfaat; memelihara amanah, dan menepati janji.

Banyak sekali manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia. Iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda (hal2 mistik), iman menanamkan semangat berani menghadapi maut, iman memberikan ketentraman jiwa, iman melahirkan sikap ikhlas, dan konsekuen. Sedangkan takwa dapat diartikan sikap memelihara keimanan yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama Islam secara utuh dan konsisten “Sebagai umat Islam, kita harus meningkatkan mutu keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT agar mendapat ketenteraman lahir dan batin.”

Takwa berasal dari kata waqa, yaqi , wiqayah, yang berarti takut, menjaga, memelihara dan melindungi. Karakteristik orang-orang yang bertakwa, secara umum dapat dikelompokkan kedalam lima kategori atau indikator ketakwaan. Pertama, iman kepada Allah; para malaikat; kitab-kitab dan para nabi. Dengan kata lain, instrumen ketakwaan yang pertama ini dapat dikatakan dengan memelihara fitrah iman.

Kedua, mengeluarkan hartanya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang terputus di perjalanan, orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban dalam memerdekakan hamba sahaya. Indikator takwa yang kedua ini, dapat disingkat dengan mencintai sesama umat manusia yang diwujudkan melalui kesanggupan mengorbankan harta.

Ketiga, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, atau dengan kata lain, memelihara ibadah formal. Keempat, menepati janji, yang dalam pengertian lain adalah memelihara kehormatan diri. Kelima, sabar di saat sedang kesusahan, atau memiliki semangat perjuangan.

Seseorang yang bertakwa adalah orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah SWT dan selalu menjaga hubungan dengan-Nya setiap saat. Ini akan menjadi kendali diri sehingga dapat menghindar dari kejahatan dan kemungkaran. Inti ketakwaan adalah melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya.

Hubungan dengan Allah SWT menjadi dasar bagi hubungan dengan sesama manusia. Orang yang bertakwa akan dapat dilihat dari peranannya di tengah-tengah masyarakat. Sikap takwa tercermin dalam bentuk kesediaan untuk menolong orang lain, melindungi yang lemah dan berpihak pada kebenaran dan keadilan. Karena itu, orang yang takwa akan menjadi motor penggerak gotong royong dan kerja sama dalam segala bentuk kebaikan dan kebajikan.

Allah SWT menjabarkan ciri-ciri orang yang bertakwa dengan ciri-ciri perilaku yang berimbang antara pengabdian formal kepada Allah SWT dan hubungan sesama manusia. Pada surat Al-Baqarah ayat 177, dijelaskan, orang bertakwa itu ialah orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat dan kitab-kitab Allah.

Aspek-aspek tersebut merupakan dasar keyakinan yang dimiliki orang yang takwa dan dasar hubungan dengan Allah SWT dalam bentuk ubudiah. Selanjutnya Allah SWT menggambarkan hubungan kemanusiaan, yaitu mengeluarkan harta, dan orang-orang yang menepati janji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s