SYEKH YUSUF


Empat puluh kilometer di tenggara Cape Town, Afrika Selatan, di atas sebuah bukit di bekas ladang pertanian Zandvliet, kawasan faure yang dikenal dengan nama Desa Macassar, terdapatlah sebuah kuburan seorang tokoh yang termasyhur.

Kuburan itu terletak di dalam sebuah bangunan 5 x 7 meter persegi yang beratap kubah berwarna hijau, sehingga dari jauh nampak seperti sebuah masjid kecil mungil. Tidak jauh dari bangunan itu terdapat tugu peringatan yang tinggi, dua meriam tua bercat hitam dan empat buah kuburan lain.

Pemandangan di sekitar bukit itu indah, lapang dan tidak jauh dari pantai sebuah teluk yang yang bernama False Bay. Sungai yang mengalir di dekat kawasan itu bernama Eerste River. Kalu kita berdiri agak lama di atas bukit itu, sekali-kali kita akan melihat kawanan burung camar yang berwarna putih bersih terbang melayang dalam kelompok, perlahan-lahan, melintasi gugusan awan-gemawan. Teluk ini berbatasan di sebelah baratnya dengan sebuah tanjung yang terkenal dengan nama Tanjung Harapan.

Di sebelah barat Tanjung Harapan terbentang Samudera Atlantik dan di sebelah timurnya Samuder Hindia. Dengan demikian tanjung ini merupakan perbatasan antara dua samudera besar di dunia.

Siapakah gerangan tokoh termasyhur yang dimakamkan di atas bukit Macassar, di Afrika Selatan itu ?

Dialah Syekh Yusuf , seorang pejuang Indonesia yang gagah berani, kelahiran Goa, Sulawesi Selatan, dan berjuang di banten, Jawa Barat. Dia dibuang Kompeni Belanda ke Afrika Selatan tiga abad yang lalu dan meninggal dalam usia 73 pada tahun 1699. Syekh Yusuf dimakamkan di atas bukit Macassar, yang jaraknya lebih dari 10.000 km dari kampung halamannya.

Ketika kecil dia diberi nama Muhammad Yusuf dan setelah berumur setengah baya termasyhur dengan gelar As-Syekh Al-Hajj Yusuf Abu Mahasin Hidayatullah Tajul Khalawati Al-Makassari Al-Bantani. Di Sulawesi Selatan dia sangat dikenal dengan gelar Tuanta Salamaka, berarti Tuan Kita Yang Selamat Dan Mendapat Berkah. Di Afrika Selatan tokoh besar idola masyarakat ini juga disebut Tuan Yusuf.

Muhammad Yusuf dilahirkan dalam lingkungan keluarga raja di Goa, Sulawesi Selatan, pada tanggal 3 Juli 1626, bertepatan dengan 8 Syawal 1036. Ibunya, I Tubiana Daeng Kunjung yang juga disebut dengan nama Aminah, adalah puteri Kepala Desa Moncong Lo’e. Dari garis keturunan ibunya, dia masih termasuk kerabat raja-raja Goa. Nama ayahnya tidak tidak diketahui, konon adalah seorang petani rajin dari Desa Ko’mara.

Raja Goa pada waktu itu bernama Sultan Alauddin. Ketika hamil, Aminah tinggal di Istana dan melahirkan bayinya yang diberi nama Muhammad Yusuf oleh Raja Goa. Yusuf diangkat oleh Sultan Alauddin sebagai anaknya dan mendapat pendidikan sebagai putera raja. Namun dia tidak mendapat gelar kebangsawanan walaupun jadi anak angkat Sultan Alauddin.

Ketia Yusuf berumur sebulan, permaisuri Sultan melahirkan seorang puteri yang diberi nama Siti Daeng Nissaga. Dengan demikian puteri raja ini mempunyai seorang kakak engkat laki-laki.

Yusuf dan Siti sejak kecil bersama-sama berguru membaca Al-Qur’an pada Daeng ri Tasammang, dan setelah khatam dilanjutkan dengan pelajaran tata-bahasa Arab, fikih dan tauhid. Guru selanjutnya adalah Sayyid Ba’alwy bin Abdullah Tahir di Bontoala, dan yusuf mulailah membaca kitab-kitab atau buku teks Agama.

Agama Islam masuk Sulawesi Selatan pada tahun 1605, dibawa oleh tiga orang Ulama Minangkabau, yaitu Abdul Makmur Kahtib Tunggal bergelar Datok ri Bandang, Sulaiman Khatib Sulung bergelar Datok ri Patimang, dan Abdul Jawad Khatib Bungsu bergelar Datok ri Tiro. Jadi ketika Yusuf Lahir, penduduk setempat waktu itu baru 21 tahun memeluk Islam.

Anak yang dalam umur muda menunjukan bakat kecerdasan luar biasa ini sudah mampu memahami apa yang dibacanya dalam kitab-kitab itu. Dia mulai tertarik pada tasawuf. Dengan tasawuf seseorang akan senantiasa berikhtiar tak jemu-jemu mendekatkan diri pada Allah.

Berbeda dengan zaman sekarang, pada abad 17 itu apabila seorang murid atau santri selesai belajar pada seorang guru, maka guru itu akan menganjurkan santrinya pergi belajar pada guru lain yang lebih tinggi ilmunya di tempat lain. Maka Yusuf yang cerdas dan berbakat menjadi ilmuwan itu, ketika itu masih berumur 15 tahun, disuruh gurunya menyambung pelajaran pada seorang alim bernama SYEKH JALALUDDIN AIDID yang datang dari Aceh di Cikoang. Tiga tahun lamanya Yusuf menimba ilmu di Cikoang.

“Yusuf ” kata Syekh Jalaluddin Aidid, ” Kini kau sudah selesai belajar dengan aku. Selagi kau masih muda ini, gunakanlah umurmu untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Kamu cerdas dan rajin. Kamu cinta pada tasawuf. Kini pergilah kau ke sumber ilmu di seberang samudera, yaitu di Makkah. Goa memerlukan banyak Ulama, dan kamu akan jadi seorang alim di antara mereka itu, untuk memimpin ummat kelak kemudian hari. Apalagi Kompeni Belanda mulai menunjukkan gejala-gejala perbuatan zalim di negeri kita. Pergilah Yusuf, selamat jalan, ma’assalamah, aku senantiasa mendo’akanmu “.

Berangkatlah Yusuf ke ibu kota Somba Opu. Sesudah sehari menunggu di pelabuhannya, dengan menumpang sebuah kapal layar Portugis bertolaklah dia mula-mula menuju Banten. Tujuan utamanya memang tanah suci Makkah, tapi Yusuf tidak mungkin langsung berlayar ke semenanjung Arabia itu.

Hari itu tanggal 22 September 1644. Yusuf remaja muda usia 18 tahun, berdiri di haluan kapal menatap kaki langit. Inilah awal pengalamannya mengarungi lautan.

Pelayaran pertama Yusuf makan waktu delapan hari dari pelabuhan Makassar ke pelabuhan Banten. Kapalnya tidak langsung menunju Banten, tapi singgah-singgah dulu di pelabuhan lain di pesisir pulau Jawa. Jarak yang ditempuhnya sejauh sekitar 1.700 kilometer.

Kerajaan Gowa waktu itu aman dan makmur. Raja yang memerintah ketika Yusuf meninggalkan kampung halamannya adalah Sultan al-Malikus-Sa’id. Kerajaan Banten juga aman dan makmur. Raja yang memerintah Banten waktu itu adalah Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir.

Yusuf tidak sukar menyesuaikan diri di tempat yang baru ini. Dia memang mudah bergaul dan memiliki kepribadian yang menyenangkan. Yusuf menambah ilmunya dengan mengikuti pengajian-pengajian di Banten. Dia berkenalan dengan berbagai kalangan masyarakat, juga dengan putera mahkota Pangeran Surya. Kelak kemudian perkenalan dengan pangeran ini akan menjadi sangat penting, karena pangeran inilah yang belakangan akan menjadi raja menggantikan ayahnya.

Di Banten Yusuf membaca karangan-karangan Syekh Nuruddin Ar-Raniri. Yusuf kagum pada kedalaman ilmu Syekh Nuruddin, dan tumbuhlah cita-citanya untuk langsung berguru padanya. ” Tapi dimana Syekh itu sekarang ? ” tanya Yusuf dalam hatinya. ” apakah betul balik ke negerinya di Ranir, atau sudah kembali lagi ke Aceh ? “.

Karena belum puas dengan ilmu yang diperolehnya di Banten, berlayarlah lagi Yusuf ke Aceh. Jarak antara Banten dan Aceh lewat selat Malaka kira-kira 2000 kilometer jauhnya. Waktu itu yang memerintah di Aceh adalah seorang raja perempuan, Sultanah Tajul Alam, menggantikan suaminya Sultan Iskandar Sani. Aceh adalah kerajaan islam yang tertua di Nusantara, makmur dalam perdagangan dan merupakan pusat ilmu di abad ke 17.

Yusuf bertemu Syekh Nuruddin dan berguru padanya. Yusuf menerima ijazah tarikat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin. Tetapi Yusuf bukan saja belajar tasawuf dari Syekh Nuruddin, namun juga menimba ilmu filsafat kenegaraan dari cendekiawan pengarang kitab Bustanus-Salatin, buku yang judulnya bermakna ” Taman Raja Raja ” itu. Kemudian Yusuf kembali lagi ke Banten untuk melanjutkan perjalanan ke Makkah.

Sesudah lima tahun belajar di Banten dan Aceh, pada umur 23 tahun Yusuf berlayarlah ke barat menuju Tanah Suci, tujuan utamanya tempat memperdalam ilmu di semenanjung Arabia.

Bila dahulu Yusuf berlayar selama delapan hari, kini pelayarannya makan waktu 56 hari. Bila dahulu ketika Yusuf mulai pergi merantau masih dalam umur remaja, kini dia sudah pemuda. Dahulu berangkat dari kampung kelahiran dilepas oleh ibu dan keluarga di Makassar, kini dilepas oleh sahabat-sahabat barunya di Banten.

” Yusuf jangan lupa pada kami di banten ” kata Pangeran Surya yang mengucapkan selamat jalan kepadanya, ” Selamat mencari ilmu dan naik haji ke Tanah Suci. Do’akan kami dari Masjidil haram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s