Sayyid Jalaluddin Bafaqih Al-Aidid


Pendahuluan—

Islam yang dibawa oleh Rasulullah merupakan Rahmatan lil Alamin. Sesuai dengan kodratnya tersebarlah Agama ini hingga ke wilayah Nusantara yakni Indonesia. Penyebaran Islam tak terlepas dari Dakwah para Keturunan Rasulullah Saw. yang dibanyak tempat lebih dikenal dengan sebutan Habib, Sayyid atau Syarifah (penyebutan / gelar untuk Perempuan).

Hijrah para Salaf Habaib ini bermula sejak Abad ke 17 M, menyebarkan dakwah Islami dan kemudian berasimilasi dengan para Penduduk asli. Tak jarang pula mereka menikah dengan wanita pribumi termasuk keluarga bangsawan, sehingga Itulah kemudian menjadi raja, sultan atau banyak yang memegang jabatan penting di berbagai kerajaan.

Kerajaan terbesar setelah kerajaan Sriwijaya dan Majapahit adalah kerajaan di Sulawesi adalah Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa berdiri sekitar tahun 1300 an. Sebagai kerajaan di pesisir selat Makassar yang merupakan salah satu lintas laut perdagangan yang paling ramai. Maka hubungan dengan dunia luar tercipta baik dalam urusan ekonomi, sosial, politik, budaya dan agama. Sulaiman as-Sirafi, pengelana dan pedagang dari pelabuhan Siraf di Teluk Persia mengatakan bahwa di Sili terdapat beberapa orang Islam, yaitu sekurang-kurangnya pada akhir abad ke 2 Hijriah. Hal ini sesuatu yang telah pasti dan tidak butuh pen-tahqiq-an lagi karena perdagangan rempah-rempah dan wangi-wangian yang berasal dari kepulauan Maluku pasti membuat pedagang-pedagang Muslimin sering berkunjung ke sana dan ketempat-tempat yang berdekatan dengan kepulauan ini. Menurut Syaikh Syamsuddin Abu Ubaidillah Muhammad bin Thalib ad-Dimasyqi yang terkenal dengan nama Syaikh ar-Rabwah dalam bukunya Nukhbah ad Dhar bahwa kepulauan Sili atau Sulu adalah Sulawesi. Lebih lanjut beliau mengatakan, “sekelompok Alawiyin telah memasuki pulau-pulau itu di waktu mereka melarikan diri dari kejaran golongan Bani Umayyah. Mereka lalu menetap dan berkuasa di sana sampai mati dan dikuburkan di daerah itu …”

Islam mulai diterima secara resmi dalam struktur kerajaan sekitar tahun 1500 an, pada masa Raja Gowa ke IX yang bernama Daeng Mantanra Karaeng Tamapa’risika Kallonna. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya Masjid yang dibangun pertama kali di daerah Manggalekanna tahun 1538 M. Pada masa pemerintahan Raja I Manga’rangi Daeng Manrobbia yang bergelar Sultan Alauddin di datangkanlah 3 orang ulama yang berasal dari Sumatra, yaitu :

1. Khatib Tunggal Abdul Makmur digelar Dato’ri Bandang dan menjadi penyebar agama di daerah Makassar;

2. Khatib Sulaiman yang digelari Dato’ri pattimang yang terutama menyebarkan Islam di daerah Kerajaan Luwu;

3. Khatib Bungsu yang digelar Dato’ri Tiro menjadi penyebar agama di daerah Bulukumba.

Kerajaan Gowa di Selatan dan Keraajaan Luwu di Daerah Utara Sulawesi Selatan menjadi pusat penyebaran Islam sejak Islam di jadikan sebagai agama resmi kerajaan, sehingga hampir seluruh Sulawesi Selatan memeluk agama Islam kecuali Tana Toraja.

Pada abad ke 17 berdatanganlah Keturunan Rasulullah ke Pulau Sulawesi, beberapa diantaranya Sayyid Jalaluddin Bin Muhammad Wahid Bin Abubakar Bafaqih Aidid hampir bersamaan dengan kedatangan Sayyid Ba’alwy bin Abdullah Tahir. Sayyid Jalaluddin berdakwah di wilayah Cikoang-Makassar (dan lalu di Bima) sementara Sayyid Ba’alwy berdakwah di Wilayah Bontoala-Makassar.

Raja Gowa ke 32,33 dan ke 36 memakai gelar Aidid di belakang namanya. Mereka adalah keturunan dari Sayyid Jalaluddin bin Muhammad Wahid Bafaqih Aidid.

Kedatangan Sayyid Jalaluddin Bafaqih Al-Aidid di Gowa-Makassar—

Sayyid Jalaluddin bin Muhammad Wahid Bafaqih Al-Aidid lahir di Aceh, tahun 1603, dari pihak ibunya bernama Syarifah Khalisah Bin Alwi Jamalullail (ibu dari Syarifah ini adalah anak dari Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam) Juga merupakan keturunan Hadramaut yang masih keturunan langsung dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Ra, putri dari Rasulullah Saw. Tepatnya keturunan yang ke-29 dari Nabi Muhammad Saw.

Ia sempat menuntut ilmu ke negeri Timur Tengah. Saat ia tiba di kerajaan Goa Makassar pada abad 17 pada masa pemerintahan Sultan Alauddin, sempat singgah terlebih dahulu ke Banjarmasin untuk menyebarkan agama Islam. Di Makassar beliau kemudian diangkat menjadi Mufti kerajaan. Oleh Sayyid Jalaluddin, Putra Mahkota kerajaan Goa diberi nama Muhammad al-Baqir Imallombassi Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin. Dan Sultan Hasanuddin merupakan muridnya yang pertama, dan berguru padanya selama 16 tahun. Diberitakan bahwa Syekh Yusuf berguru kepadanya selama 3 tahun dan atas petunjuknya kemudian Syekh Yusuf diberangkatkan ke Timur Tengah untuk memperdalam ilmunya.

Beberapa bukti yang menunjukkan bahwa beliau berasal dari Aceh adalah naskah-naskah agama yang beliau bawa merupakan karangan-karangan Nuruddin ar-Raniriy, yaitu Akhbarul Akhirah dan Ash-Shiratal Mustaqim. Sampai sekarang naskah-naskah tersebut masih digunakan oleh anak keturunan beliau di Cikoang dan telah disalin berulang-ulang. Kedatangan beliau ke Sulawesi Selatan — seperti dikutip Abd. Majid Ismail dari Andi Rasdiyanah Amir, dkk. dalam Bugis Makassar dalam Peta Islamisasi, 1982 —merupakan gelombang lanjutan dari proses Islamisasi kerajaan-kerajaan Bugis Makassar sesudah periode Dato’ ri Bandang, Dato’ di Tiro dan kawan-kawan pada awal abad ke-17.

Ia menikah dengan I ‘Accara Daeng Tami binti Sultan Abdul Kadir (Karaengta ri Bura’ne) Bin Sultan Alauddin, seorang putri bangsawan yang masih mempunyai darah kerajaan Gowa, dan mempunyai 5 orang anak. Saat ia pertama datang ke Makassar banyak yang meragukan bahwa ia seorang keturunan dari Hadramaut, karena pada saat itu faham Al-Aidid belum menyebar di Indonesia, sehingga ia diacuhkan oleh sultan Makassar. Sehingga ia berpindah ke Cikoang dan menyebarkan agama Islam disana.

Kisah Pendaratan Sayyid Jalaluddin Bin Muhammad Wahid Bafaqih Al-Aidid di Cikoang Makassar—

Dikisahkan, Sayyid Jalaluddin Bafaqih Al-Aidid menikah dengan I Acara’ Daeng Tamami Binti Sultan Abdul Kadir Karaengta ri Bura’ne bin Sultan Alauddin, seorang putri bangsawan kerajaan Gowa. Beliau tidak mendapatkan respon yang layak dari Sombaya di Gowa, karena karena pada saat itu faham Al-Aidid belum menyebar di Indonesia, sehingga ia diacuhkan oleh sultan Makassar.

Beliau pamit pada Sombaya di Gowa dan kemudian menitipkan istrinya di Balla Lompoa, Gowa. Atas izin Allah SWT, Sayyid meninggalkan Balla Lompoa dengan menggunakan sehelai sajadah (tikar sembahyang) sebagai kendaraan pribadinya dan sebuah tempat air wudhu (cerek) menemaninya.

Dalam waktu sekejab, Sayyid sudah sampai di sebelah utara pulau Tanakeke, kemudian sebelah utara Sungai Bontolanra, Parappa, Sanrobone, dan Sungai Maccinibaji (Saat itu tepat pada tahun 1632 M). pada saat yang sama, di muara sungai Cikoang, sebelah utara hulu sungai, I Bunrang (kesatria Cikoang) memasang kuala (bila). Lalu, di sebelah selatan hulu sungai, I Danda (kesatria Cikoang) juga memasang kuala. Esoknya, I Danda dan I Bunrang melihat sebuah benda berbentuk kapal laut besar lewat di sebelah utara Tompo’tanah. Hanya dalam waktu sekejap, benda tersebut berubah bentuk menjadi benda bercahaya. Melihat itu, kedua kesatria Cikoang itu berlomba mendayung lepa-lepanya (perahu) mendekati benda itu. Saat mendekat, keduanya tercengang melihat seorang manusia memakai jubah, duduk bersila di atas sajadah ditemani cerek. Melihat keajaiban pada orang itu, Sayyid Jalaluddin, I Danda dan I Bunrang lalu menawarkan jasa pada Sayyid. Kedua perahu itu lalu dirapatkan. Sayyid kemudian meletakkan kaki kanannya di atas perahu I Danda dan kaki kirinya di perahu I Bunrang.

Kedua satria itu kemudian mendayung perahunya ke pinggiran sungai Cikoang. Mereka lalu mengabdi pada Sayyid. Selanjutnya, I Bunrang diutus untuk menjemput istri Sayyid, I Acara’ Daeng Tammami, di Balla Lompoa, Gowa.

Dua bulan setelah Daeng Tamami berada di Cikoang, tepatnya saat tarikh 10 Syafar 1025 H, mulailah dilaksanakan mandi Syafar untuk pertama kalinya sebagai rangkaian peringatan maulid Nabi Muhammad SAW atau dikenal sebagai Maudu’ Lompoa (maulid besar). Kegiatan itu dilaksanakan pada tanggal 12 Rabiul Awal 1025 Hijriah oleh Sayyid, I Danda, I Bunrang, serta jamaah ajarannya. Peringatan itu berdasarkan tiga faktor keyakinan dan keikhlasan.

Ketiga faktor itu, yaitu, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kejadian di alam Nur, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW keadaan di alam rahim, dan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kelahiran di alam dunia.

Diantara ajaran Sayid Jalaluddin yang dapat dilihat hingga hari ini adalah Maulud Nabi Muhamamad saw yang disebut “tradisi Maudu Lompoa”. Pada masa pemerintahan Sayid Ja’far Ash-Shadiq Al-Aidid menjadi Raja Gowa, maka tradisi Maudu Lompoa di tetapkan sebagai hari besar agama yang sangat penting sampai sekarang. Acara ini digelar selama 18 hari sejak 12 Rabiulawal sampai 30 Rabiulawal. Pelaksanaannya dilaksanakan secara langsung oleh “ 40 Anrongguru” yakni guru-guru Makrifat yang terdiri dari para Sayid keturunan Sayid Jalaluddin Al-Aidid.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. (Maudu Lompoa)—

Untuk tujuan menyebarkan agama Islam itulah, Ia memulai tradisi upacara “Maudu Lompoa.” Dimana sengaja diselenggarakan upacara tersebut bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal, yaitu maulid Nabi Muhammad Saw. Ia menulis kitab Rate’ yang berisi inti dari ajaran agama Islam serta riwayat hidup Rasulullah Saw hingga Jalaluddin Al-Aidid. Dimana isi dari kitab tersebut dibacakan pada setiap peringatan maudu Lompoa tersebut.

Dalam mengajarkan Islam di tanah Sulawesi Selatan, Sayyid Jalaluddin Bafaqih Aidid mengajarkan 3 hal penting yang kemudian menjadi faktor utama terwujudnya upacara Maudu’ Lompoa, yaitu prinsip al-Ma’rifah, al-Iman dan al-Mahabbah.

Dengan prinsip itu diyakini bahwa pemahaman ruhaniah secara hakekat terhadap Allah terlebih dahulu harus didahului dengan pemahaman mendalam atas kejadian dan kelahiran Nabi Muhammad saw. Masyarakat Cikoang mengenal 2 proses kelahiran beliau, yaitu kelahiran di alam ghaib (arwah) dan kelahiran di alam syahadah (dunia).

Kejadian di alam ghaib berwujud “Nur Muhammad” yang diciptakan Allah sebagai sumber segala makhluk yang daripadanyalah tercipta alam semesta ini. Masyarakat di Cikoang — khususnya para Sayyid — percaya bahwa Allah menyinari dan memberi cahaya langit dan bumi (bertajalli) melalui “Nur Muhammad” yang diciptakan Allah sebagai pokok kejadian segala makhluk dan rahmat bagi seluruh Alam.

Sedangkan kelahiran beliau di alam syahadah ini diyakini merupakan kelahiran dengan membawa kebenaran yang mutlak untuk dipegang. Karenanya sebagai upaya untuk menyinambungkan ikatan pada dua konsepsi dasar kelahiran Nabi prosesi peringatan maulid menjadi sesuatu yang amat sakral. Masyarakat Takalar —khususnya para sayyid— meyakini sepenuhnya kelahiran Rasulullah saw merupakan isyarat kemenangan. Dan kemenangan harus diwujudkan dalam penguatan ikatan cinta melalui maudu’ lompoa kepada hasrat suci Nabi.

Sayyid Jalaluddin Bafaqih Aidid dan Akhir hidupnya—

Saat perang adu domba Belanda bergejolak antara suku Bugis di Buton dan suku Makassar di Gowa, beliau ikut membantu dalam perlawanan melawan Aru Palaka, Raja Bone. Kemudian, Saat perang mulai bergejolak dengan ditolaknya perjanjian Bungaya oleh Karaeng Galesong, Karaeng Bontomaranu, serta Sultan Bima II Abdul Khair Sirajuddin pada tahun 1667. Maka dengan perjanjian yang mengharuskan Karaeng Galesong dan sultan Bima II Abdul Khair Sirajuddin untuk diserahkan kepada pihak Belanda karena dianggap musuh yang paling besar dan berpengaruh, maka mereka berhijrah ke tanah Jawa. Sayyid Jalaluddin pun turut serta dalam Hijrah tersebut. Mereka mendarat pertama di ujung barat pulau Sumbawa, sesampainya disana mereka berpisah. Dimana Karaeng Galesong, Sultan Bima II Abdul Khair Sirajuddin, serta laskar Karaeng Galesong melanjutkan perjalanan ke tanah Jawa di arah barat. Sedangkan Sayyid melanjutkan perjalanan ke arah timur hingga tiba di Bima. Dengan membawa seluruh harta yang mereka bawa dari Makassar, dan mengganti nama selama perjalanan menjadi Mutahar.

Sayyid Jalaluddin Bafaqih Al-Aidid hidup di Bima sekitar 30 tahun, dimana Ia menyebarkan agama Islam di Bima. Walaupun demikian, beliau tetap memiliki kendala yaitu belum terkenalnya faham Al-Aidid sebagai bagian dari Hadramaut, dibandingkan dengan nama-nama hadramaut lain seperti Assegaf, Al-Kaff, dan yang lainnya. Maka ia menerima keraguan dari para sultan dan orang-orang kerajaan.

Sayyid Jalaluddin Bafaqih Al-Aidid wafat saat menyebarkan agama Islam di daerah pedalaman Bima tahun 1693, dimana ia mencoba mengajak para penduduk asli yang masih tinggal di puncak gunung untuk masuk kedalam agama Islam. Dengan alasan bahwa ajaran yang dibawa oleh Sayyid jalaluddin Bafaqih Al-Aidid adalah ajaran sesat. Para pihak Belanda mencoba untuk mengadu domba, sehingga ditikamlah Sayyid Jalaluddin Bafaqih Aidid dengan tombak oleh salah satu penduduk. Saat beliau sekarat, Belanda menembaknya hingga Sayyid menjemput Syahid-nya.
Saat ini makam Sayyid Jalaluddin Bafaqih Al-Aidid berada di Bima. Di puncak bukit salah satu dusun terpencil di Bima, dimakamkan oleh para pengikut setianya serta para penduduk yang mengikuti ajarannya. Saat ini tempat itu menjadi pemukiman yang kental nilai Islaminya, baik dari segi kehidupan sehari-hari hingga tradisi adat mereka. Doa tak putus-putusnya untuk Sayyid Jalaluddin bin Muhammad Wahid Bafaqih Aidid, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT, dan ditempatkan di syurga-Nya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s