PEMBAHASAN TENTANG AYAT “MAWADDAH”


Yang kami maksud dengan ‘ayat Mawaddah’ ialah firman Allah s.w.t. dalam S. Ay-Syura: 23, yaitu yang berbunyi sebagai berikut:
“Katakanlah – hai Muhammad: ‘Aku tidak minta upah apa pun atas hal itu’ – yakni da’wah Risalah – kecuali supaya kalian bercintakasih dalam kekeluargaan”.
Ayat suci tersebut dengan tegas memberi pengertian kepada kita kaum Muslimin, bahwa cintakasih kepada para anggota keluarga, atau kerabat, atau ahlulbait Rasulullah s.a.w. merupakan suatu soal yang diminta oleh junjungan kita Nabi Besar Muhammad s.a.w. Sesuatu yang diminta oleh Rasulullah s.a.w. hukumnya adalah wajib, kerana yang diminta oleh beliau bererti diminta oleh Allah s.w.t. Kewajipan itu menjadi lebih kuat lagi kedudukan hukumnya kerana telah menjadi ketetapan firman Allah s.w.t. di dalam Al-Qur’an.
Para Imam ahli tafsir banyak yang membicarakan ayat tersebut, terutama mengenai pengertian tentang kata ‘keluarga’ yang dalam nash aslinya (Al-Qur’an) digunakan kata ‘al-qurba’ yang dapat pula diertikan ‘kerabat’.
Imam As-Sayuthiy di dalam kitabnya, ‘Ad-Durr Al-Mantsur’, dan para Imam ahli tafsir lainnya banyak yang dalam menafsirkan kata ‘al-Qurba’ itu menggunakan Hadits Ibnu ‘Abbas r.a. sebagai dasar. Ibnu ‘Abbas r.a. meriwayatkan, ada beberapa orang sahabat Nabi bertanya kepada Rasulullah s.a.w.: “Ya Rasulullah, siapa-siapakah kerabat anda yang wajib kami bercintakasih?” Beliau menjawap: “‘Ali, Fatimah dan kedua orang puteranya”.
Sehubungan dengan itu Ibnu ‘Abbas mengatakan, bahwa beberapa orang dari kaum Anshar mengeluarkan ucapan-ucapan tertentu yang menyatakan kebanggaan atas jasa-jasa yang telah mereka sumbangkan dalam perjuangan membela Rasulullah s.a.w. Sebagai reaksi terhadap pernyataan mereka itu ‘Abbas bin Abdul Mutthalib menjawap: “Kami lebih afdhal daripada kalian”. Peristiwa itu didengar oleh Rasulullah s.a.w., kemudian pada suatu hari beliau dalam pertemuan dengan kaum Anshar berkata:
“Hai kaum Anshar, bukankah kalian pada mulanya hina-dina kemudian dengan aku Allah memuliakan kalian?… Mereka menyahut: Benar, ya Rasulullah!… Beliau berkata lagi: Mengapa kalian tidak menjawapku? Mereka bertanya: Apakah yang hendak kami katakan, ya Rasulullah? Beliau s.a.w. kemudian berkata: Bukankah kalian mengatakan – kepadaku – “Bukankah anda dikeluarkan oleh kaum anda – dari Makkah – kemudian anda kami lindungi? Bukankah mereka mendustakan anda kemudian membenarkan anda dan mempercayai anda? Bukankah mereka tidak mau menolong anda kemudian anda kami bela?”…
Di saat Rasulullah s.a.w. masih berbicara ada di antara kaum Anshar yang menukas: “Harta kekayaan kami dan semua yang ada pada kami sekuruhnya kami serahkan kepada Allah dan Rasul-Nya”. Sebagai jawapan atas pertanyaan mereka itulah turun ayat “al-mawaddah”. Demikianlah Ibnu ‘Abbas r.a.
Thawus mengatakan, ketika Ibnu ‘Abbas r.a. ditanya mengenai soal itu ia menjawap: “Yang dimaksud ‘al-qurba’ (kerabat) dalam ayat tersebut ialah ‘aal’ (keluarga, ahlulbait) Muhammad s.a.w.
Al-Muqriziy menafsirkan ayat ‘al-Mawaddah’ itu sebagai berikut: “Aku tidak minta upah apa pun kepada kalian atas agama yang kubawakan kepada kalian itu selain agar kalian berkasih-sayang terhadap kerabatku”.
Abul-Aliyah mengatakan, bahwa Sa’id bin Jubair menafsirkan kata ‘qurba’ dalam ayat tersebut dengan ‘kerabat Rasulullah s.a.w.’
Abu Ishaq mengatakan, ketika ia menanyakan makna ‘al-qurba’ dalam ayat itu kepada Amr bin Syu’aib ia (Amr) menjawap, bahwa yang dimaksud adalah ‘kerabat Rasulullah s.a.w.’
Suatu hal yang penting kita ketahui ialah bahwa minta upah atau imbalan atas wahyu yang diterima dari Allah s.w.t. sama sekali tidak pada tempatnya, sebab menurut kisah para Nabi di dalam Al-Qur’an, tak ada seorang Nabi pun yang minta upah atau imbalan. Apalagi Nabi kita Muhammad s.a.w. sebagai sayyidul-Anbiya wal-Mursalin, lebih tidak layak kalau dikatakan bahwa beliau itu minta upah atau imbalan atas Risalah yang disampaikan kepada ummatnya. Untuk mencegah kemungkinan adanya pengertian yang tidak benar itu Allah s.w.t. telah berfirman kepada Rasul-Nya dalam S. Shaad: 86 sebagai berikut:
“Katakanlah – hai Muhammad: Aku tidak minta upah apa pun kepada kalian atas hal itu – yakni da’wah Risalah – dan aku bukanlah termasuk orang yang mengada-ada”.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa tabligh, atau menyampaikan Risalah adalah wajib, kerana hal itu diperintahkan Allah s.w.t. dalam firman-Nya, S. Al-Ma’idah: 67:
“…sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu”…
Kerana itu jelas sekali bahwa ayat ‘al-Mawaddah’ tidak dapat ditafsirkan seolah-oleh Rasulullah s.a.w. minta upah atau imbalan atas da’wah Risalahnya. Yang diminta oleh Rasulullah s.a.w. ialah supaya ummatnya melaksanakan prinsip mawaddah (cintakasih) yang telah menjadi kewajipan agamanya. Banyak ayat-ayat Al-Qur’anul-Karim yang mewajibkan kaum Muslimin supaya bercintakasih dan berkasihsayang di antara sesama mereka. Tidak sedikit pula Hadits-hadits Rasulullah s.a.w. yang menekankan soal cintakasih dan setiakawan di antara sesama kaum Muslimin. Jadi, kalau di antara sesama kaum Muslimin saja Allah dan Rasul-Nya mewajibkan keharusan saling berkasihsayang dan bercintakasih, apalagi di antara kaum Muslimin awam dan kaum Muslimin yang berasal dari ahlulbait atau keluarga Rasulullah s.a.w. Demikian itulah pendapat Al-Khathib dan Al-Khazin.
As-Sadiy mengetengahkan riwayat berasal dari Abu Dailam yang mengatakan, ketika ‘Ali Zainal Abidin r.a. (ketika itu masih remaja) di bawa ke Damaskus sebagai tawanan dari Karbala, ada seorang yang melihatnya berkata: Alhamdulillah yang telah membunuh kalian (yakni: keluarga kalian, yaitu Imam Al-Husein r.a. dan kaum kerabatnya), dengan demikian akan berakhirlah abad fitnah”. ‘Ali Zainal Abidin r.a. menjawap dengan pertanyaan: “Apakah engkau sudah membaca Al-Qur’an?” Orang yang jahil itu menjawap: “Ya, tentu!” ‘Ali Zainal Abidin bertanya lagi: “Apakah engkau sudah membaca Aal Haa Miim”? Orang itu menjawap: “Aku membaca Al-Qur’an, tetapi tidak pernah membaca Aal Haa Miim”. ‘Ali Zainal Abidin r.a. berkata: “Kalau begitu engkau tidak pernah membaca ayat yang berbunyi: “Katakanlah – hai Muhammad: ‘Aku tidak minta upah apa pun kepada kalian atas hal itu (yakni da’wah Risalah) kecuali supaya kalian bercintakasih dalam kekeluargaan!” Orang jahil itu bertanya: “Apakah kalian termasuk mereka (keluarga Rasulullah)?” ‘Ali Zainal Abidin menjawap: “Ya!”
Kami kira orang jahil yang gembira atas terbunuhnya Al-Husein r.a. beserta kaum kerabatnya di Karbala itu bukan orang beriman. Seumpama ia orang beriman, ia adalah orang yang telah dikuasai oleh kekuasaan syaitan. Sebab, tidak mungkin dari mulut seorang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya akan keluar ucapan yang tidak pantas itu. Bagaimana bisa jadi, kalau dalam hati seseorang terdapat iman yang lurus ia akan bersyukur atas terbunuhnya keluarga Rasulullah s.a.w.? Bahkan ia merasa senang mendengar berita tentang percincangan terhadap Al-Husein r.a.! Barangkali permusuhan yang dahulu dilancarkan oleh Abu Jahl terhadap Allah dan Rasul-Nya belum sehebat permusuhan orang yang jahil itu. Kami yakin, bahwa dalam zaman kita dewasa ini tidak ada orang yang demikian sesat seperti si Jahil itu dalam melampiaskan kebenciannya terhadap keluarga Rasulullah s.a.w. Andaikata ada orang seperti itu, ia tentu akan berubah perangainya bila mendengar Hadits-hadits shahih mengenai fadha’il dan keutamaan para ahlulbait Rasulullah s.a.w., yang diriwayatkan oleh kaum Salaf yang saleh dan para ulama Islam dari zaman ke zaman. Bahkan lebih cepat lagi perangainya akan berubah bila ia mengerti bahwa fadha’il ahlulbait Rasulullah s.a.w. justru termaktub dalam firman Allah s.w.t. dan dinyatakan sendiri oleh Rasulullah s.a.w. Hanya orang-orang yang berniat hendak memadamkan sinar Islam sajalah yang dengan berbagai cara membuat berita-berita dan riwayat-riwayat bohong untuk menjatuhkan nama baik ahlulbait Rasulullah s.a.w. Mereka itu termasuk orang-orang yang dimaksudkan oleh Allah s.w.t. dalam firmannya:
“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, namun Allah tidak menghendaki lain kecuali menyempurnakan cahaya (agama)-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai”. (S. At-Taubah: 32).
Sehubungan dengan tafsir ayat ‘al-Mawaddah’ itu Zamakhsyariy di dalam kitabnya, ‘Al-Kasysyaf’ mengetengahkan sebuah Hadits panjang yang kemudian dikutip oleh Fakhrur-Razy di dalam ‘Al-Kabir’. Hadits tersebut ialah bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mencintai keluarga Rasulullah s.a.w. ia mati syahid. Sungguhlah bahwa orang yang meninggal dunia dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad ia memperolah ampunan atas dosa-dosanya. Sungguhlah bahwa siapa yang meninggal dunia dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad ia mati dalam keadaan telah diterima taubatnya. Sungguhlah bahwa barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad ia mati sebagai orang beriman yang sempurna imannya. Sungguhlah bahwa barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad ia diberi khabar gembira oleh malaikat maut akan masuk syurga, kemudian diberitahu pula oleh dua malaikat, Munkar dan Nakir. Sungguhlah barangsiapa meninggal dunia dalam mencintai keluarga Muhammad ia akan diarak masuk syurga seperti pengantin perempuan di arak menuju rumah suaminya. Sungguhlah bahwa barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, di dalam kuburnya ia akan dibukakan dua pintu menuju syurga. Sungguhlah bahwa barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad ia mati dalam lingkungan sunnah awal jama’ah. Sungguhlah bahwa barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan membenci keluarga Muhammad, pada hari kiamat kelak ia akan dibangkitkan dalam keadaan tertulis pada keningnya ‘Orang yang putus asa mengharapkan rahmat Allah’. Sungguhlah bahwa barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan membenci keluarga Muhammad ia mati kafir. Sungguhlah bahwa barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan membenci keluarga Muhammad ia tidak akan mencium bau syurga”.
Fakhru-Raziy mengatakan, keluarga (aal) Muhammad s.a.w. ialah mereka yang urusannya tergantung kepada beliau, dan setiap orang yang urusannya bergantung kepada beliau adalah orang yang paling sempurna. Mereka itu aal (keluarga) Muhammad s.a.w. Sudah pasti, bahawa Fatimah, ‘Ali, Al-Hasan dan Al-Husein radhiyallahu ‘anhum mereka itu merupakan orang-orang yang paling bergantung kepada Rasulullah s.a.w. Itulah yang kita ketahui dari Hadits-hadits mutawatir, kerananya mereka itulah yang disebut aal Muhammad s.a.w.
Lebih jauh Fakhrur-Raziy mengatakan, orang berbeza pendapat mengenai pengertian atau makna kata ‘aal’. Ada yang berkata, bahwa yang dimaksud ‘aal’ adalah kaum kerabat. Ada pula yang mengatakan, bahwa yang dimaksud ‘aal’ adalah ummat Muhammad s.a.w. Kalau kata ‘aal’ hendak diertikan ‘kerabat’ maka empat orang tersebut di atas adalah kerabat yang paling dekat, yaitu keluarga. Kalau kata ‘aal’ hendak diertikan ‘ummat yang menerima da’wah beliau s.a.w.’ maka empat orang itu pun jelas termasuk orang-orang yang menerima da’wah beliau s.a.w. Jadi, dengan apa saja kata ‘aal’ itu hendak diertikan, empat orang itu (yakni Fatimah, ‘Ali, Al-Hasan dan Al-Husein radhitallahu ‘anhum) adalah ‘aal’ atau ‘keluarga’ Rasulullah s.a.w. Tidak ada perselisihan pendapat mengenai kedudukan mereka itu sebagai ‘aal’ Muhammad s.a.w. Yang menjadi titik perselisihan pendapat ialah, apakah orang lain (selain empat orang itu) termasuk dalam pengertian ‘aal’ ataukah tidak.
Mengenai soal itu – demikian Fakhrur_Raziy mengatakan – Zamakhsyariy dalam kitabnya, Al-Kasysyaf telah meriwayatkan, bahwa ketika ayat ‘Al-Mawaddah’ itu turun Rasulullah s.a.w. ditanya: “Ya Rasulullah, siapa-siapakah kerabat anda yang wajib kami cintakasihi?” Beliau menjawap: “‘Ali, Fatimah dan dua orang puteranya”. Dengan demikian teranglah, bahwa empat orang itu adalah kerabat dan keluarga Rasulullah s.a.w. Mereka itulah yang berhak memperoleh kemuliaan khusus lebih besar. Mengenai itu dapat dikemukakan tiga buah dalil sebagai berikut:
1. Firman Allah s.w.t. dalam S. Asy-Syura: 23 (ayat ‘Al-Mawaddah).
2. Tidak dapat disangkal lagi bahwa Rasulullah s.a.w. sangat mencintai Fatimah r.a., dan beliau telah menegaskan; “Fatimah adalah bagian dari aku, apa yang menggangunya mengganguku”. Demikian pula mengenai Imam ‘Ali, Al-Husein radhiyallahu ‘anhum. Rasulullah s.a.w. pun sangat mencintai mereka. Banyak sekali Hadits-hadits mutawatir yang memberitakan hal itu. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. terhadap ahlulbaitnya wajib diikuti oleh segenap kaum Muslimin, kerana Allah s.w.t. telah berfirman:
“…Dan ikutilah dia (Rasul) agar kalian mendapat hidayat”. (A’raf: 158).
“…Maka hati-hatilah mereka yang menyalahi perintahnya…” (S. An-Nur: 63).
“Katakanlah hai Muhammad: Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah pasti mencintai kalian”. (S. Ali-Imran: 31).
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suritauladan yang baik bagi kalian”. (S. Al-Ahzab: 21).
3. Mendoakan ‘aal’ Muhammad s.a.w. mempunyai nilai yang besar, kerana itu doa shalawat ditetapkan sebagai penutup doa tasyahhud di dalam shalat; yaitu ucapan: Allahumma shali ‘alla Muhammad wa ‘aala aal Muhammad. Selain keluarga Rasulullah s.a.w. tidak ada yang memperoleh penghormatan dan kemuliaan setinggi itu, dan kenyataan tersebut merupakan dalil bahwa mencintai aal Muhammad s.a.w. adalah wajib.
Demikianlah keterangan yang diberikan oleh Fakhrur-Raziy mengenai makna kata ‘al-Qurba’ di dalam ayat ‘Al-Muwaddah’.
Ada sementara pendapat yang mengatakan, bahwa yang di maksud dengan ‘al-qurba’ dalam ayat ‘Al-Muwaddah’… ialah anak-anak Abdul Mutthalib. Orang yang berpendapat seperti itu antara lain Al-Qasthalaniy, yang mengatakan bahwa yang dimaksud ‘Al-qurba’ atau kerabat ialah keturunan Abdul Mutthalib.
Ibnu Hajar di dalam ‘As-Shawa’iqul-Muhriqah’ mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan ‘al-qurba’ ialah orang-orang beriman dari keturunan Hasyim (Bani Hasyim) dan Bani Abdul Mutthalib. Pendapat itu dibenarkan oleh As-Shiban di dalam ‘Is’afur-Raghibin’ dan menambahnya dengan ‘al-‘itrah’ (keturunan Rasulullah s.a.w.). Ia mengatakan, bahwa empat peristilahan tersebut (yakni: ‘aal’, ‘ahlulbait’, ‘dzawil-qurba’ dan ‘itrah’) mempunyai satu makna. Hal itu ditegaskan oleh As-Shiban di dalam kitab ‘Al-Mawahib’.
Imam Al-Muqriziy berpendapat, bahwa ayat ‘Al-Mawaddah’ mempunyai sifat umum berlaku bagi semua orang beriman. Ia mengatakan, bahwa semua orang Arab adalah kaumnya Rasulullah s.a.w. dan beliau sendiri adalah dari mereka. Kerana itu orang lain yang bukan Arab diminta supaya bersikap baik dan menyukai orang Arab. Banyak Hadits yang mengisyaratkan hal itu. Al-Muqiriziy lebih jauh mengatakan di antara semua orang Arab, yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan Rasulullah s.a.w. adalah orang-orang Qureisy, kerana itu setiap orang Arab harus menghormati dan mencintai orang Qureisy. Tentang keafdhalan orang Qureisy dibanding dengan orang-orang lainnya, banyak diketengahkan dalam Hadits-hadits Nabi s.a.w. Bani Hasyim adalah kabilah (rahth) Rasulullah s.a.w. dan keluarganya, kerana itu setiap orang Qureisy harus menghormati dan mencintai orang Bani Hasyim. ‘Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Al-Hasan, Al-Husein radhiyallahu ‘anhum dan anak cucu keturunan mereka adalah orang-orang yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah s.a.w., kerana itu setiap orang Bani Hasyim harus menghormati dan mencintai mereka. Demikian kata Al-Muqriziy.
Mengenai Hadits-hadits yang berkenaan dengan fadha’il (keutamaan) Qureisy, antara lain seperti di bawah ini:
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Semua orang mengikuti Qureisy dalam kebajikan maupun dalam keburukan”. (‘Asy-Syaraful-Muabbad Li Aal Muhammad’: 162).
“Barangsiapa hendak meremehkan Qureisy ia akan di remehkan (dihina) Allah”. (‘Asy-Syaraful-Muabbad Li Aali Muhammad’: 162).
“Allah memberikan kelebihan kepada Qureisy dengan tujuh perkara yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun sebelum dan sesudah mereka: (1) Allah memberi kelebihan kepada Qureisy dengan (melahirkan aku) dari mereka. (2) Kenabian ada di tengah mereka. (3) Hijabah (kewajipan mengurus Ka’bah) ada pada mereka. (4) Siqayah (kewajipan menjamin air minum bagi semua jama’ah haji) juga pada mereka. (5) Allah menyelamatkan mereka dari serbuan ‘pasukan gajah’ (bala tentera Abrahah dari Yaman). (6) Mereka menyembah Allah 10 tahun lebih dari sebelum orang lain. (7) Tidak ada orang atau kabilah mana pun selain mereka yang disebut dalam satu surah dalam Al-Qur’an (Li iilaafi Qureisyin).” (‘Asy-syaraful Muabbad’: 162-163).
“Semua orang mengikuti Qureisy. Yang Muslim mengikuti Muslim-nya Qureisy dan yang kafir mengikuti kafir-nya Qureisy. Sesungguhnya semua orang menurut asal fitrahnya; orang-orang yang baik di masa jahiliyah dapat menjadi orang-orang yang baik di dalam Islam jika mereka telah sedar”. (‘Asy-Sayaraful Muhabbad’: 163).
“Hai manusia, janganlah kalian mencerca Qureisy agar kalian tidak binasa. Janganlah kalian meninggalkan Qureisy agar kalian tidak sesat. Janganlah kalian mengajar mereka, tetapi belajarlah dari mereka kerana mereka itu lebih mengerti daripada kalian. Seumpama mereka (dahulu) tidak sombong, tentu kedudukan mereka dalam pandangan Allah sudah ku umumkan”. (‘Asy-syaraful’: 163).
“Cintailah orang Qureisy, kerana siapa yang mencintai mereka ia akan dicintai Allah”. (‘Asy-syaraful Muabbad’: 164).
“Cinta kepada orang Qureisy adalah iman dan benci kepada mereka adalah kufur”. (‘Asy-syaraful Muabbad’: 164).
“Dahulukan orang Qureisy dan janganlah kalian mendahului mereka. Seumpama (dahulu) orang Qureisy tidak sombong tentu kedudukan mereka dalam pandangan Allah sudah kuberitahukan”. (‘Asy-syaraful Muabbad’: 164).
“Qureisy adalah kebaikan bagi semua orang, orang tidak akan baik kecuali dengan mereka, ibarat makanan yang tidak akan baik kecuali dengan garam. Qureisy adalah khalis-hatullah (manusia bersih yang diciptakan Allah). Barangsiapa yang melancarkan perang terhadap mereka ia akan dicabut nikmatnya, dan barangsiapa yang hendak berbuat jahat terhadap mereka ia akan dihinakan Allah di dunia dan diakhirat”. (‘Asy-syaraful Muabbad’: 164-165).
“Janganlah kalian memaki Qureisy, kerana orang alim (yang akan muncul) dari Qureisy kelak akan memenuhi semua penjuru bumi dengan ilmu”. (‘Asy-syaraful Muabbad’: 165).
Mengenai Hadits yang terakhir itu Imam Ahmad bin Hanbal dan lain-lain mengatakan, bahwa orang alim yang dari Qureisy itu ialah Imam Syafi’iy r.a. sebab tidak ada seorang alim yang ilmunya terpelihara di semua pelosok dunia selain Imam Syafi’iy.
Putera Imam Ahmad bin Hanbal yang bernama Shalih menceritakan sikap yang diperlihatkan ayahnya kepada Imam Syafi’iy, sebagai berikut: Pada suatu hari Imam Syafi’iy datang menjenguk ayahku (yakni Imam Ahmad). Ayahku berdiri menyambut kedatangannya, merangkul dan mencium keningnya. Imam Syafi’iy dipersilakan duduk oleh ayahku di tempat duduknya, kemudian mereka bercakap-cakap. Ketika Imam Syafi’iy hendak pulang dan sudah naik ke atas kenderaannya (keldai, kuda atau unta) ayahku mengantarkannya dengan berjalan kaki di sampingnya. Ketika Yahya bin Mu’in mendengar berita tentang kejadian itu, ia bertanya kepada ayahku: “Subhanallah, kenapa anda berbuat seperti itu”? Ayahku menjawap: “Seumpama ketika itu aku berjalan di sampingnya dan anda juga turut berjalan di samping yang lain, tentu anda akan memperoleh manfaat. Barangsiapa yang ingin memperoleh ilmu Fiqh sebanyak-banyaknya hendaknya ia mencium ekor kuda yang ditunggangi Imam Syafi’iy r.a.”!
At-Thabariy dalam tafsirnya mengenai ayat ‘Al-Mawaddah’ mengatakan, bahwa ayat tersebut bermakna: “Hai orang Qureisy, aku tidak minta upah apa pun kepada kalian. Yang kuminta hanyalah supaya kalian berkasih sayang dengan kerabatku dan memelihara silaturrahimi yang ada antara aku dan kalian”.
Ibnu ‘Abbas r.a., Ibnu Ishaq dan Qatadah, ketiga-tiganya mengatakan: Rasulullah s.a.w. mempunyai hubungan kekerabatan dan keturunan dengan setiap anak suku kabilah Qureisy. Ayat tersebut mengandungi erti permintaan agar orang-orang Qureisy jangan mengganggu beliau s.a.w.
Berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas r.a., Ibnu Hatim dalam menafsirkan kalimat “…dan barangsiapa berbuat kebaikan…” (lanjutan ayat Al-Mawaddah) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘kebaikan’ (hasanah) ialah ‘cintakasih kepada aal Muhammad s.a.w.’
Sebagaimana diketahui, Ibnu ‘Abbas r.a. meriwayatkan, bahawa Rasulullah s.a.w. telah berkata:
“Cintalah Allah atas nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada kalian, cintailah aku berdasarkan kecintaan kepada Allah, dan cintailah ahlulbait berdasarkan kecintaan kepadaku”.
Ibnu Mas’ud r.a. meriwayatkan, bahawa Rasulullah s.a.w. telah berkata:
“Mencintai ahlulbait Muhammad satu hari lebih baik dari ibadah satu tahun”.
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, bahwa Rasulullah s.a.w. telah menegaskan:
“Yang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik sikapnya terhadap ahlulbait sepeninggalku”.
Thabraniy dan lain-lain mengetengahkan beberapa Hadits Nabi s.a.w. tentang kecintaan kepada ahlulbaitnya, antara lain:
“Seorang hamba Allah tidak akan sempurna imannya sebelum kecintaannya kepadaku melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri; sebelum kecintaannya kepada keturunanku melebihi kecintaanya kepada keturunannya sendiri; sebelum kecintaannya kepada keluargaku melebihi kecintaannya kepada keluarganya sendiri; dan sebelum kecintaannya kepadaku dzatku melebihi kecintaannya kepada dzatnya sendiri”.
“ahlulbait dan para pencintanya di kalangan ummatku akan bersama-sama masuk syurga seperti dua jari telunjuk ini”.
“Hendaklah kalian tetap memelihara kasihsayang dengan kami, ahlulbait, kerana orang yang bertemu dengan Allah (pada hari kiamat kelak) dalam keadaan mencintai kami ia akan masuk syurga dengan syafaat kami. Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, amal seorang hamba Allah tidak akan bermanfaat baginya kecuali dengan mengenal hak-hak kami”.
Ad-Dailamiy mengetengahkan sebuah riwayat Hadits, bahawasanya Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
“Barangsiapa yang hendak bertawassul (berwasilah) dan ingin memperoleh syafaat dariku pada hari kiamat kelak, hendaknya ia menjaga hubungan silaturrahimi dengan ahlulbait dan berbuat yang menggembirakan mereka”.
Imam ‘Ali bin Abi Thalib r.a. mengatakan, bahwa Rasulullah s.a.w. memberitahukan kepadaku:
“Bahwa orang-orang yang pertama akan masuk syurga ialah aku, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein. Aku bertanya: Bagaimanakah para pencinta kami, ya Rasulullah? Beliau menjawap: Di belakang kalian”.
Imam Ahmad bin Hanbal r.a. mengetengahkan sebuah Hadits, bahawa pada suatu hari Rasulullah s.a.w. memegang tangan Al-Hasan dan Al-Husein seraya berkata:
“Barangsiapa yang mencintaiku dan mencintai kedua anak ini dan ayahbunda mereka, ia akan berada di dalam derajatku pada hari kiamat”.
Yang dimaksud ‘di dalam derajatku’, bukan bererti sederajat dengan beliau s.a.w., melainkan bersama-sama beliau dalam musyahadah (menyaksikan Dzat Ilahi).
“Barangsiapa berbuat baik kepada salah seorang dari keturunan Abdul Mutthalib dan ia belum memperoleh imbalannya di dunia, maka imbalannya menjadi tanggunganku pada hari kiamat kelak, bila ia bertemu denganku”. (Hadits marfu diketengahkan oleh Thabrani).
“Empat golongan yang akan memperoleh syafaat dariku pada hari kiamat. Mereka itu adalah:
1. Orang yang menghormati keturunanku.
2. Orang yang memenuhi kebutuhan mereka.
3. Orang yang berusaha membantu urusan mereka pada saat mereka memerlukannya.
4. Orang yang mencintai mereka dengan hati dan lidahnya”.
Ibnun-Najjar di dalam kitab ‘Tarikh’-nya tentang Al-Hasan bin ‘Ali r.a. mengetengahkan sebuah Hadits, bahwasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
(Segala sesuatu mempunyai asas. Asas Islam ialah kecintaan kepada para sahabat Rasulullah dan kecintaan kepada ahlulbaitnya).
Thabraniy mengetengahkan sebuah Hadits berasal dari Ibnu ‘Abbas r.a. yang mengatakan, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah berkata:
“Dua kaki seorang hamba Allah tidak akan dapat bergerak pada hari kiamat sebelum ia ditanya tentang empat perkara: Untuk apa umurnya dihabiskan; untuk apa tubuhnya (jasadnya) dirusakkan (yakni: dipergunakan hingga mati); untuk apa hartanya diinfakkan dan dari mana diperoleh; dan ditanya tentang kecintaannya kepada ahlulbait”.
Ad-Dailamiy mengetengahkan Hadits berasal dari Imam ‘Ali bin Abi Thalib r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
“Di antara kalian yang paling mantap berjalan di atas shirath ialah yang paling besar kecintaannya kepada ahlulbaitku dan para sahabatku”.
Dalam Shahih Bukhariy dan Muslim terdapat sebuah riwayat Hadits sebagai berikut:
Al-‘Abbas, paman Nabi, mengadu kepada Rasulullah s.a.w. tentang adanya kelompok orang Qureisy yang sedang bercakap-cakap, tetapi setelah mereka melihat Al-‘Abbas datang, mereka memperlihatkan muka kecut dan menghentikan percakapannya. Mendengar pengaduan itu Rasulullah s.a.w. tampak gusar, wajahnya merah padam dan keningnya berkeringat. Beliau kemudian berkata:
“Kenapa sampai ada orang-orang yang sedang bercakap-cakap, tetapi bila mereka melihat seorang dari ahlulbaitku datang lalu menghentikan percakapannya. Demi Allah, iman belum masuk ke dalam hati seseorang sebelum ia mencintai mereka (para ahlulbaitku) kerana mereka itu adalah kerabatku”.
Menurut riwayat lain, ketika itu Rasulullah s.a.w. berkata:
“Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, iman belum masuk ke dalam hati seseorang sebelum ia mencintai kalian (ahlulbait) demi kerana Allah dan Rasul-Nya”.
Thabraniy di dalam kitab ‘Al-Ausath’ mengetengahkan Hadits, bahwa Abdullah bin Umar Ibnul-Khatthab r.a. mengatakan:
“Kalimat terakhir yang diucapkan Rasulullah s.a.w. ialah: Gantikanlah aku (teruskanlah kepemimpinanku) di kalangan ahlulbaitku”.
Imam ‘Ali r.a. meriwayatkan, bahwa Rasulullah s.a.w. telah berkata:
“Didiklah anak-anak kalian mengenai tiga perkara: Mencintai Nabi kalian, mencintai ahlulbaitnya dan membaca Al-Qur’an”.
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Allah mempunyai tiga hurumat (hal-hal yang wajib dihormati dan tidak boleh dilanggar). Barangsiapa yang menjaga baik-baik tiga hurumat itu Allah akan menjaga urusan agamanya dan keduniaannya; dan barangsiapa yang tidak mengindahkannya, Allah tidak akan mengindahkan sesuatu baginya. Para sahabat bertanya: Apakah tiga hurumat itu, ya Rasulullah? Beliau menjawap: Hurumatul-Islam, hurumatku dan hurumat kerabatku”.
Semua pemimpin dan para ulama kaum Salaf dan Khalaf (generasi sezaman dengan Rasulullah s.a.w. dan generasi-generasi berikutnya) memupuk kecintaannya masing-masing kepada ahlulbait Rasulullah s.a.w., terutama Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. yang pernah berkata:
“Kerabat Rasulullah s.a.w. lebih kucintai daripada kerabatku sendiri”.
Al-Bukhariy mengetengahkan ucapan Abu Bakar r.a. di dalam ‘Shahih’-nya:
“Jagalah – wasiyat – Muhammad mengenai ahlulbaitnya”.
Ibnu Allan mengatakan, bahwa Imam Nawawiy – Penulis kitab ‘Riyadhus-Shalihin’ – mengertikan kata ‘jagalah’ tersebut di atas dengan: ‘peliharalah, hormatilah dan muliakanlah’.
Al-Mala dalam kitab ‘Sirah’-nya mengetengahkan sebuah Hadits, bahawasanya Rasulullah s.a.w. berpesan:
“Wasiatkanlah kebajikan bagi Ahlulbaitku. Pada hari kiamat kelak aku akan menggugat kalian mengenai ahlulbaitku. Barangsiapa yang menghadapi gugutanku, ia akan digugat oleh Allah, dan barangsiapa yang digugat oleh Allah ia akan dimasukkan ke dalam neraka”.
Sebuah Hadits shahih yang diketengahkan oleh banyak Ahlul-Sunnah (para ulama Hadits) memberitakan kejadian sebagai berikut: Ketika anak perempuan Abu Lahab meninggalkan orang tuanya dan hijrah ke Madinah, ada beberapa orang dari kaum Muslimin yang berkata kepadanya: Hijrahmu ke Madinah tidak ada gunanya samasekali, kerana orang tuamu adalah umpan neraka! Ketika anak perempuan Abu Lahab melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah s.a.w., beliau amat gusar, kemudian berkata:
“Kenapa sampai ada orang-orang yang menggangguku melalui nasab dan kaum kerabatku?! Sungguhlah, barangsiapa yang mengganggu nasabku dan kaum kerabatku bererti ia menggangguku, dan barangsiapa yang menggangguku bererti ia mengganggu Allah”.
Thabraniy dan Al-Hakim mengetengahkan Hadits berasal dari Ibnu ‘Abbas r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. telah berkata:
“Hai Bani Abdul Mutthalib, kalian kudoakan kepada Allah mengenai tiga hal: Semoga Allah memantapkan kedudukan kalian; semoga Allah melimpahkan ilmu kepada orang yang sesat di antara kalian. Seumpama ada orang yang naik turun antara Rukn dan Maqam (dua buah tempat sekitar Ka’bah) kemudian ia shalat dan puasa, tetapi jika ia meninggal dunia dalam keadaan membenci ahlulbait Muhammad, ia masuk neraka”.
Dalam kitab ‘Al-Ausath’ Thabraniy mengetengahkan Hadits berasal dari Jabir bin Abdullah, yang mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah s.a.w. berkhutbah, antara lain beliau berkata:
(Hai manusia, barangsiapa menbenci kami, Ahlulbait, pada hari kiamat ia akan digiring sebagai orang Yahudi).
Abu Sa’id Al-Khudriy meriwayatkan, bahawasanya Rasulullah s.a.w. berkata:
(Orang yang membenci kami, ahlulbait, Allah akan memasukkannya ke dalam neraka).
Thabrani meriwayatkan sebuah Hadits berasal dari Imam ‘Ali bin Abi Thalib r.a. berkata kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan:
“Hati-hatilah jika engkau membenci kami, kerana Rasulullah s.a.w. telah berkata: Orang yang membenci kami dan dengki terhadap kami pada hari kiamat akan dihalau dari syurga dengan cambuk dari neraka”.
Imam Ahmad bin Hanbal r.a. mengetengahkan sebuah Hadits marfu, bahwa Rasulullah s.a.w. berkata:
“Barangsiapa membenci ahlulbait dia adalah munafik”
Rasulullah s.a.w. juga telah berkata:
“Syurga diharamkan bagi orang yang berlaku dzalim terhadap ahlulbaitku dan menggangguku lewat keturunanku”.
Demikian banyaknya Hadits-hadits Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh para sahabatnya, yang kesemuanya memberi pengertian kepada kaum Muslimin, bahwa mencintai beliau s.a.w. dan ahlulbaitnya merupakan bagian dari agama Islam, yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang mendambakan keridhoan Allah s.w.t., kerana keridhoan Allah dan keridhoan Allah dan keridhoan Rasul-Nya merupakan kesatuan yang tak terpisahkan.
Mereka itulah ahlulbait Rasulullah s.a.w. yang wajib kita kenal dan kita akui keutamaan martabat serta kelebihan-kelebihan yang telah dilimpahkan Allah sebagai anugerah istimewa kerana hubungan kekeluargaan mereka dengan Rasulullah s.a.w.
Mereka keluarga suci dan mulia
Barangsiapa dengan ikhlas mencintainya
Ia memperoleh pegangan yang sentosa
Untuk bekal kehidupan di akhiratnya
Yang keluhuran perilakunya terkenal di dunia
Kebajikannya menjadi buah bibir dan cerita
Dan keagungannya diingat orang sepanjang masa
Hormat kepada mereka adalah kewajipan agama
Kecintaan kepada mereka wujud hidayat yang nyata
Mentaati mereka adalah curahan cinta
Dan kecintaan kepada mereka adalah takwa
Setelah dibai’at sebagai penerus kekhalifahan ayahandanya, Imam Al-Hasan r.a. dalam khutbahnya antara lain menegaskan kedudukan ahlulbait Rasulullah s.a.w., sebagai berikut:
“Kami adalah keluarga terdekat Rasulullah s.a.w., kami ahlulbait beliau yang baik, kami adalah salah satu dari dua tsaqal (tsaqalain) yang diwasiatkan datuk kami s.a.w. kepada ummatnya, kami tsaqal kedua setelah Kitabullah yang di dalamnya terdapat penjelasan terperinci mengenai segala sesuatu dan yang tidak mengandung kebatilan samasekali, baik secara samar-samar atau pun secara terang, suatu Kitab suci yang diturunkan oleh Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, Kitab Suci yang tafsir dan ta’wilnya ada pada kami. Kerana itu hendaknya kalian taat kepada kami, kerana ketaatan kalian kepada kami telah diwajibkan selama kami tetap taat kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada Rasul-Nya. Allah s.w.t. telah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul-Nya dan ulil-amri dari kalian”. (S. An-Nisa’: 59).
Selanjutnya Imam Al-Hasan r.a. berkata: “Kami adalah pimpinan kaum Muslimin dan hujah Ilahi di alam semesta. Kami adalah maula kaum Muslimin dan kami jaminan keamanan bagi penghuni bumi sebagaimana bintang-bintang menjadi jaminan keamanan bagi penghuni langit…”
“Hai ummat manusia, barangsiapa telah mengenalku, tentu ia telah benar-benar mengenalku, dan barangsiapa yang belum mengenalku maka kenalilah bahwa aku adalah Al-Hasan bin ‘Ali, aku putera Nabi, putera manusia yang diutus Allah sebagai pembawa berita gembira dan peringatan, putera seorang Nabi dan Rasul yang mengajak ummat manusia bersembahsujud kepada Allah. Aku adalah putera pelita yang memancarkan cahaya terang-benderang, aku seorang dari ahlulbaitnya yang oleh Allah s.w.t. telah dibersihkan dari segala noda dan kotoran serta telah disucikan sesuci-sucinya. Aku seorang dari ahlulbait Rasulullah s.a.w. yang Allah mewajibkan setiap Muslim supaya berkasihsayang kepadanya. Allah Tabaraka Wa Ta’ala telah berfirman kepada Rasul-Nya s.a.w.:
“Katakanlah: Aku tidak minta upah apa pun kepada kalian atas da’wah Risalah selain supaya kalian berkasihsayang dalam kekeluargaan, dan barangsiapa berbuat kebaikan kepadanya akan Kami tambahkan kebaikan”. (S. Asy-Syura: 23).
Kerana itu hendaklah kalian berbuat baik dengan berkasih sayang kepada kami, ahlulbait Rasulullah s.a.w. Imam ‘Ali bin Abi Thalib r.a. dalam penjelasannya mengenai ciri-ciri khusus para pengikut dan pencinta ahlulbait Rasulullah s.a.w. mengatakan sebagai berikut:
“Para pengikut dan pencinta kami, ahlulbait Rasulullah s.a.w., adalah orang-orang yang mengenal Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Mereka itu orang-orang yang memiliki keutamaan dan selalu berbicara benar, makanan dan pakaian mereka sederhana, berjalan dengan tawadhu (rendah hati) mencari keridhoan Allah dengan taat kepada-Nya dan tunduk kepada-Nya dengan khusyu beribadah. Mereka memejamkan mata dari semua yang diharamkan Allah dan gemar mendengarkan serta menuntut ilmu untuk mengenal Tuhannya. Dalam menghadapi cubaan dan kesenangan, jiwa mereka menunduk dan ridho menerima takdir Ilahi. Kalau bukan kerana umur yang telah disuratkan Allah s.w.t. bagi mereka, sekejap mata pun roh mereka tidak akan tetap di dalam jasad mereka, kerana mereka itu sangat merindukan pertemuan dengan Allah, amat mendambakan limpahan pahala-Nya dan selalu takut akan hukuman-Nya yang amat pedih. Dalam jiwa mereka hanya Al-Khaliq sajalah Yang Maha Besar, selain itu adalah serba kecil dalam pandangan mereka. Mereka membayangkan syurga seperti orang yang pernah menyaksikannya sambil duduk bersandar di pelaminan. Gambaran mereka mengenai neraka seperti orang yang pernah menyaksikan sambil merasakan adzabnya dengan sabar beberapa hari lamanya kemudian akan tiba saatnya bagi mereka untuk menikmati kebahagiaan yang lama. Mereka dirayu keduniaan, tetapi mereka tidak menginginya. Keduniaan mengejar-ngejar mereka, tetapi mereka sanggup membuat keduniaan tidak berdaya menguasai mereka. Di malam hari kaki mereka tegak berdiri (shalat), membaca bagian-bagian dari Al-Qur’an, mendidik diri mereka sendiri dengan contoh-contoh dan teladan yang terdapat di dalamnya, dan dengan Al-Qur’an yang dibacanya itu mereka mengubati penyakit yang ada di dalam jiwa mereka. Ada kalanya juga mereka duduk bersimpuh, menekuk lutut dan ujung jari-jari kaki bersembah sujud kepada Allah. Dengan air mata bercucuran pada kedua pipinya mereka mengagungkan Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, mohon kepada-Nya supaya dilepaskan dari keduniaan yang membelenggu mereka. Itulah yang mereka lakukan di malam hari.
“Di siang hari mereka adalah para ahli hikmah yang patuh kepada Allah, para ulama yang takwa dan takut kepada Tuhannya. Mereka tampak seperti anak panah yang belum disepuh (lemah lunglai) sehingga engkau menduga mereka itu orang-orang sakit atau orang-orang yang kebingungan, padahal mereka tidak demikian. Mereka itu tercekam jiwanya merasakan kebesaran Allah dan kehebatan kekuasaan-Nya; hati mereka tidak pernah terlepas dari Tuhannya dan fikiran mereka pun tak pernah lengah. Apabila mereka telah terlepas dari cekaman batinnya, mereka segera mengabdikan diri kepada Allah dengan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya. Mereka tidak puas dengan sedikit berbakti kepada Allah dan tidak meminta balasan sebanyak-banyaknya. Mereka adalah orang-orang yang selalu menyedari kekurangan pada dirinya dan senantiasa ingin berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya. Engkau dapat menyaksikan pada diri mereka masing-masing terdapat kesedaran beragama yang kuat, terdapat kemantapan tekad dalam sikapnya yang lembut, memiliki iman dan keyakinan yang mantap, selalu haus ingin menambah ilmu, memahami fiqh sedalam-dalamnya, menuntut ilmu dengan tabah dan sabar, luwes dalam usaha mencapai tujuan. Mereka tidak membutuhkan sesuatu, tetapi hidup mempunyai tujuan. Mereka memperindah diri dengan hidup kekurangan, dan berkasihsayang dengan hati yang sabar. Mereka khusyu dalam beribadah, bermurah hati kepada orang yang kesusahan, memenuhi hak orang lain, tidak serakah dalam mencari penghidupan, menghendaki yang serba halal, giat memberikan petunjuk dan nasihat, ketat menjaga tuntutan selera, tidak tergiur oleh sesuatu yang tidak diketahuinya, selalu memperhitungkan apa yang hendak diperbuatnya, tidak tergesa-gesa melakukan sesuatu, dan sekalipun ia berbuat baik namun tetap merasa takut. Di pagi hari mereka sibuk berdzikir dan di petang hari mereka terus menerus bersyukur. Di malam hari mereka berhati-hati agar tidak lupa beribadah, dan di pagi hari riang gembira atas rahmat Allah yang diperolehnya. Mereka selalu menginginkan sesuatu yang kekal (kehidupan akhirat) dan hidup zuhud meninggalkan hal-hal yang tidak berguna. Mereka menerapkan ilmunya dalam amal perbuatan dan menyatukannya dengan kesabaran. Mereka rajin dan giat serta tak kenal malas, tidak bercita-cita muluk dan dari Allah mereka mengharap kebajikan. Mereka asyik menanti ajal dengan hati senantiasa bersyukur kepada Tuhan, rela dengan apa yang ada pada dirinya, sanggup menahan amarah, pantang mengganggu tetangga, mudah urusannya, menonjol kesabarannya dan banyak dzikirnya. Mereka tidak berbuat kebaikan kerana riya (untuk mendapat pujian orang) dan tidak meninggalkan kebajikan kerana malu. Mereka itulah para pengikut dan pencinta kami, ahlulbait Rasulullah s.a.w.” (Mahmud Syarqawiy: ‘As-Sayyidatu Zainab’: 36).
Itulah sifat-sifat mulia, luhur dan sempurna yang semestinya menghiasi diri setiap Muslim agar dapat menjadi pencinta sejati ahlulbait Rasulullah s.a.w. Sebab, jika orang benar-benar mencintai Rasulullah s.a.w. dan ahlulbaitnya maka tidak bisa lain ia tentu mengikuti jejak mereka dan bersuriteladan pada keluhuran akhlak dan perangai mereka. Itulah hikmah yang terkandung di dalam perintah Allah dan Rasul-Nya supaya setiap Muslim senantiasa mengucapkan shalawat dan salam bagi Rasulullah s.a.w. beserta ahlulbaitnya. Mengucapkan shalawat adalah mudah, tetapi mewujudkan ucapan shalawat dalam kehidupan nyata memang menuntut kesedaran iman yang setinggi-tingginya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s