Just another WordPress.com site


Di dalam al-Quran perintah berdzikir diungkapkan berkali-kali dan pada umumnya muncul dalam tiga redaksi, yaitu: wadzkur isma rabbika ‘dan sebutlah nama Tuhanmu’ [Al-Insan :25], atau wadzkur rabbaka ‘dan sebutlah Tuhanmu’ [Ali Imran :41], atau wadzkurullaha ‘dan sebutlah Allah’ [Al-Anfal :45; al-Jumu’ah :10].

Berdzikir dapat dilakukan dengan berbagai lafal yang ma’tsur dari hadis-hadis Nabi saw seperti subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar, la ilaha illallah, istighfar, salawat, al-asma al-husna, membaca ayat-ayat suci al-Quran, dan lain sebagainya. Hanya saja, lafal dzikir yang paling utama dan paling agung adalah al-nafy wa al-itsbat (di-Indonesia-kan menjadi “nafi-isbat”), yaitu ungkapan la ilaha illallah ‘tidak ada Tuhan selain Allah’.

Yang didasarkan pada hadis Nabi yang menyatakan bahwa Dzikir yang paling utama adalah la ilaha illallah” [Shahih Ibni Hibban, juz III:126; Sunan al-Tirmidzi, juz V: 426 dan Sunan Ibn Majah, juz II: 1249].

Selanjutnya Nabi SAW mengatakan: “Allah benar-benar mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan la ilaha illallah semata-mata mengharap ridha-Nya” [Shahih al-Bukhari, I: 164, V: 2063].

Di samping itu, keutamaan dzikir ini dapat dipahami dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam-imam hadis lainnya:

“Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku di Hari Kiamat kelak adalah orang yang berdzikir dengan la ilaha illallah secara murni dari kalbu atau jiwanya” [Musnad Ahmad, juz II:373; Shahih al-Bukhari, juz I: 49, V: 2402; al-Sunan al-Kubra, juz III: 42].

Lafal dzikir nafi isbat (la ilaha illallah), dipilih dan dilazimkan oleh ahli Thariqah Naqsyabandiyah sebagai lafal dzikir yang paling dominan.

Dalam Khulashah al-Tashanif fi al-Tashawwuf yang terhimpun dalam Majmu’ Rasail al-Imam al-Ghazali, Imam al-Ghazali menegaskan, “Penyucian jiwa yang paling efektif adalah dengan mengintensifkan dzikir Tarekat al-Naqsyabandiyah, yaitu dzikir dengan ismu dzat dan nafi isbat” [Majmu’ Rasail al-Imam Ghazali , hal 179].

Unsur-unsur pokok lainnya yang menjadi syarat dan rukun dalam thariqah baik sebagai “teknik berdzikir efektif” maupun sebagai “cara pengamalan syariah” dan “jalan menuju ma’rifah” adalah: mursyid (guru), wasilah (alat), rabithah (proses), dan mujahadah (suluk/iktikaf) semuanya insya Allah akan ana sajikan dalam artikel2 selanjutnya

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: